Siapa yang tidak kenal Finlandia? Negara Nordik yang terletak di Eropa Utara ini merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Negara ini sangat unggul dalam bidang literasi membaca, sains dan matematika. Dibuktikan dengan capaiannya pada survey penilaian siswa internasional, Programme for International Student Assessment (PISA). Sejak PISA diadakan untuk pertama kalinya tahun 2000 hingga sekarang Finlandia selalu berada pada kelompok negara-negara dengan skor terbaik.
Keberhasilan Finlandia ini menjadi daya tarik bagi negara-negara lain. Sejak tahun 2005 hingga 2011 tercatat sekitar 100 delegasi dari 40 - 45 negara telah mengunjungi Kementerian Pendidikan Finlandia untuk mempelajari kunci sukses negara tersebut dalam mengelola pendidikan.
Kunci sukses pendidikan Finlandia, tentu tidak lepas dari sistem pembelajarannya. Lalu Bagaimana gambaran pembelajaran yang diterapkan guru-guru di Finlandia?
Timothy D. Walker, seorang guru berkebangsaan Amerika, menulis sebuah buku berjudul : Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia). Buku ini merangkum pengalamannya mengajar selama dua tahun di salah satu Sekolah Dasar di Finlandia. Walker menceritakan suasana persekolahan di Finlandia yang santai, berbanding terbalik dengan apa yang dialaminya ketika menjadi guru di Amerika.
Jam kerja guru di Finlandia sangat singkat. Dia kaget ketika menemukan bahwa pada pukul 04.00 sore sekolah sudah kosong. Bahkan suatu saat ditegur oleh kepala sekolah, saat itu pukul 04.30 sore dia masih berada di sekolah. Di ruang guru yang kosong dia sibuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Sang Kepala Sekolah menghampiri dan berbisik di telinganya, “waktunya pulang.” Dia heran, “kejadian ini tidak akan ditemukannya di Amerika,” katanya. Di Amerika, ketika jam sekolah selesai, guru-guru kembali sibuk dengan rutinitasnya. Merancang dan mempersiapkan pembelajaran esok hari. Segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan matang dan dengan disiplin yang sangat tinggi.
Dalam catatan Walker, pembelajaran di Finlandia sangat menekankan pada kedekatan hubungan antara guru dengan peserta didik. Guru kelas mendampingi siswanya selama 4 tahun mulai dari kelas 1 hingga kelas 4. Pergantian guru kelas dilakukan pada kelas 5 yang akan berlanjut hingga kelas 6. Jadi setiap anak sekolah dasar di Finlandia hanya mempunyai 2 guru kelas hingga tamat. yakni satu orang guru kelas di kelas 1 - 4 dan satu orang lagi di kelas 5 dan 6. Hal ini memungkin guru mengenal dengan baik setiap siswanya.
Untuk memperkuat hubungan emosional antara guru dengan siswa, dilakukan dengan membiasakan menyapa nama siswa satu persatu. Guru secara rutin berdiri di depan pintu dan menyapa siswa, mengajukan pertanyaan-pernyataan ringan kepada mereka sebelum memasuki kelas.
Makan siang bersama juga membantu mengakrabkan siswa dengan guru. Moment ini digunakan oleh guru untuk bercakap-cakap dengan siswanya. Bercanda dan berdiskusi soal kesenangan dan minat mereka. Keakraban guru dan siswa juga dijalin melalui kunjungan rumah. Guru berkunjung ke rumah-rumah siswa meski hanya sekadar mengetahui keadaannya serta aktivitas mereka di rumah. Berkenalan dengan orang tua dan diskusi mengenai harapan mereka berkaitan dengan pendidikan anak-anaknya.
Pembelajaran dikelola dengan menyenangkan, mengintegrasikan permainan dalam pembelajaran. Siswa diberi kebebasan untuk menentukan permainan yang ingin mereka mainkan. Guru terlibat aktif dalam permainan. Sepertinya, belajar sambil bermain adalah perkara wajib di sekolah-sekolah Finlandia.
Sekolah yang menyenangkan menjadi prioritas. Walker mencontohkan, bagaimana sekolah-sekolah di Finlandia memulai tahun pelajaran barunya. Walker mengungkapkan bagaimana pengalamannya menjadi guru di Amerika menghadapi Tahun Pelajaran Baru. Menghadapi tahun pelajaran baru, guru-guru di Amerika terbiasa dengan menyusun rencana pembelajaran yang terinci, menit demi menit untuk beberapa hari pertama sekolah. Perencanaan ini sudah harus siap dan teratur di hari pertama sekolah.
Di Finlandia, dia menghadapi hal yang berbeda. Guru-guru di Finlandia menghadapi hari pertama sekolah dengan santainya. Dia menceritakan tentang temannya, seorang guru muda yang mengaku belum memutuskan apa yang akan dilakukan minggu itu. Sementara Walker merasa sangat tertekan dengan perencanaan rapi yang dia sudah susun.
Heran dengan keadaan itu, Walker berdiskusi dengan seorang teman, juga seorang guru sekolah dasar, bernama Johanna Hopia. Hopia menggambarkan bagaimana sekolahnya menyambut tahun pelajaran baru. Hari pertama sekolah dihabiskan dengan ngobrol tentang liburan musim panas, bermain dan berolahraga bersama. Dalam kurun waktu tersebut, Hopia tidak pernah membagikan buku paket atau memberikan pekerjaan rumah.
Guru yang lain juga menceritakan hal serupa. Seorang guru malah mengatakan bahwa di awal tahun pembelajaran dia mengajak siswanya ke taman terdekat untuk sekadar ngobrol, menari secara spontan, dan bermain sepak bola, bola basket, dan Pokemon Go.
Sekolah-sekolah di Finlandia terbiasa dengan start awal yang santai jauh dari tekanan. Memelihara hubungan persahabatan dan atmosfer yang menyenangkan untuk meletakkan dasar dari satu tahun pembelajaran. Dan hal itu bisa dilakukan dengan bermain.
Untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa dihargai. Pembelajaran di Finlandia merasa penting untuk merayakan sekecil apapun keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Walker mencontohkan. Pada pelajaran memasak, guru pengasuh mata pelajaran tersebut selalu menyisihkan waktu sekitar 15 - 20 menit di akhir pembelajaran. Hal ini untuk memberi kesempatan kesempatan siswa untuk menikmati masakan hasil karya mereka. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk merayakan sukses pembelajaran akan mendorong pencapaian dan kemandirian siswa di kelas serta membentuk rasa dimiliki.
Hal yang tidak kalah pentingnya, dari prinsip-prinsip pembelajaran di Finlandia sebagaimana yang diceritakan oleh Walker adalah kemandirian. Siswa di Finlandia sejak awal didik untuk mandiri. Membuat mereka terbiasa melakukan banyak hal tanpa tergantung pada pihak lain.
Walker menuturkan bagaimana kemandirian siswanya dalam merancang dan menyelenggarakan kegiatan kemah sekolah. Kemah Sekolah adalah kegiatan akhir tahun yang selalu ditunggu-tunggu oleh siswa. Welker menyaksikan bagaimana kemandirian siswanya dalam mempersiapkan kegiatan ini. Mengadakan penggalangan dana, membuat iklan, membuat formulir pendaftaran kelas, membawa barang yang dibutuhkan, dan mengatur perabotan, semuanya dilakukan dengan mandiri tanpa arahan guru. Guru hanya sebatas mengawasi dan tidak mencampuri proses yang sedang mereka jalani. Siswa sangat menikmati kebebasan yang diberikan dan nyatanya mereka bisa melakukan tugas-tugasnya dengan sempurna. Dan yang perlu diingat, mereka adalah siswa kelas 5 sekolah dasar.
Membaca buku Teach Like Finland karya Timothy D. Walker terbayang suasana pembelajaran yang menyenangkan. Siswa dan guru bisa menikmati persekolahan yang terbebas dari tekanan dan keterpaksaan. Pantas jika Finlandia menjadi negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Sangat mengagumkan.
Akhir-akhir ini ide-ide pendidikan Ki Hajar Dewantara ramai didiskusikan. Sehubungan dengan program pendidikan guru penggerak yang menjadi program andalan Kementerian Pendidikan. Anehnya, ide-ide pendidikan Ki Hajar sangat bersesuaian dengan praktik pembelajaran di Finlandia.
Dalam hal relasi antara guru dengan siswa, Ki Hajar memperkenalkan istilah “menghamba pada anak.” Hal ini menggambarkan bahwa guru harus memberikan pelayanan terbaik kepada siswa. Memandu mereka belajar dengan rasa kasih sayang, menghormati hak-haknya, serta memperlakukan mereka sesuai dengan karakternya. Dengan kata lain, pembelajaran harus berorientasi pada siswa. Karena itu guru harus mengenal karakteristik siswanya. Dan hal ini sudah dijalankan di Finlandia dengan berbagai strategi, sebagaimana yang telah diceritakan di atas.
Jika pendidikan di Finlandia memberikan kebebasan dan kemandirian kepada siswa untuk berkreasi. Ki Hajar sejak lama telah menanamkan ide tentang pendidikan yang memerdekakan. Bahwa setiap anak dilahirkan dengan bakat dan minatnya masing-masing. Maka pendidikan yang baik adalah memberikan kebebasan kepada setiap anak menunjukkan potensinya. Guru hanya memandu agar potensi itu bisa berkembang sesuai dengan kodratnya.
Jika sekolah-sekolah Finlandia diformat menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan, Ki Hajar sudah memproklamirkan pendidikan yang menyenangkan. Bahwa dunia anak adalah dunia bermain, anak-anak tidak bisa dipisahkan dengan permainan.
Bahkan permainan sejatinya menjadi bagian dari strategi pembelajaran. Tidak heran jika lembaga pendidikan yang didirikannya diberi nama Taman siswa. Taman identik dengan tempat bermain, tempat bersenang-senang, dan tempat menghibur diri. Kehadiran sekolah seharusnya sama dengan fungsi taman, menyenangkan.
Menyelami pemikiran Ki Hajar dan mendapati kenyataan bahwa ide-ide semacam ini sudah diterapkan di Finlandia, menimbulkan pertanyaan tersendiri. Mengapa pemikiran Ki Hajar tidak dari dulu digali dan diterapkan. Terasa aneh memang, Ki Hajar ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan nasional. Hari lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahun. Tetapi ide-idenya cenderung diabaikan dalam pengelolaan pendidikan.
Hadirnya Pendidikan Guru Penggerak yang mengembalikan pendidikan nasional pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara semoga bisa mengangkat derajat Pendidikan Indonesia. Semoga program ini benar-benar menjadi solusi bagi problem pendidikan nasional.


0 komentar:
Posting Komentar