Hanya iseng membuat rencana, ehh malah jadi. Sisi lucunya hidup ini, ya di sini ini. Kadang sesuatu yang direncanakan dengan begitu matangnya, mengerahkan seluruh kekuatan ikhtiar. Dipadu dengan teori-teori perencanaan yang bikin mumet, malah gagal. Yang direncanakan sambil bercanda malah jadi.
Tetapi disitulah rahasianya. Kamu tidak punya hak menentukan hidupmu. Kewenanganmu hanya membuat proposal. Allahlah yang akan menentukan jadi tidaknya. Kewenanganmu hanyalah menerima apa yang ditentukan Allah. Kepercayaanmu seharusnya mengajarimu untuk meyakini bahwa apapun yang diputuskan Allah untukmu itulah yang terbaik. Tidaklah Allah memutuskan sesuatu untukmu kecuali sesuai dengan pengetahuan-Nya tentangmu, maka mustahil Dia keliru dengan ketetapan itu. Demikianlah kira-kira pesan-pesan agama yang selalu harus kita ingat.
Akhir pekan ini dengan
bercanda, saya menyodorkan tawaran ke seorang teman. Berlibur ke gunung,
berkemah. Serius, saya hanya bercanda. Malah dia menanggapinya serius. Dia lalu
menghubungi teman yang lain. Beberapa menit kemudian dia melapor, sudah
beberapa orang yang bersedia ikut. Saya tertawa membayangkan sekumpulan lansia
nekad sedang menuju gunung untuk berkemah. Tidak lupa membayangkan bagaimana
rempongnya mereka.
Baiklah, ini bukan lagi candaan, harus serius. Perkakas kemah saya siapkan dengan memesan ke seorang teman. Waktu dan target ditentukan. Berangkattt.
Seumur saya jadi siswa, tidak pernah sekalipun mengikuti perkemahan. Di SD saya menghindar. Saya selalu memberi kesempatan kepada kakak saya. Dia pimpinan regu pramuka di sekolah. Harus ikut, dia dibutuhkan. Untuk ikut berdua rasanya tidak mungkin. Ongkosnya terlalu besar untuk ukuran penghasilan orang tua saya.
Kalau berkemah di sawah, sering. Di kampung, jika tanaman padi kekeringan, petani menggunakan mesin air untuk mengairi sawah. Saya biasa ikut paman bermalam di sawah. Pasang tenda, sebut saja itu adalah berkemah. Mengontrol air, bahan bakar, dan yang tak kalah pentingnya, menjaga mesin air dari orang yang secara diam-diam mengklaim sebagai pemiliknya.
Tetapi berkemah di sawah tidak ada sensasinya. Selain bertengkar dengan nyamuk yang tak berprikemanusiaan. Saya bahkan sering pamit sebelum memasuki masa in juri time. Lagi pula berkemah model begini tidak dihitung sebagai prestasi di sekolah. Tidak ada kolom untuk menuliskannya di raport. Juga tidak akan menjadi pertimbangan untuk penentuan rangking.
Padahal ini adalah
aksi nyata siswa dalam ikut merasakan tanggung jawab sebagai individu dan
sebagai makhluk sosial. Merasakan dengan nyata kerasnya hidup. Pantas saja
banyak anak rangking satu tetapi cemeng. Gagah perkasa menghadapi ujian di
sekolah tetapi gagal berantakan menghadapi ujian hidup.
Kami tiba di lokasi menjelang sore. Kawasan Wisata alam Puncak Tinambung, Bissoloro. Kawasan ini adalah salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Gowa. Berada di wilayah pegunungan dengan hutan pinusnya yang lumayan lebat. Udaranya sejuk tidak terlalu dingin. Sangat cocok sebagai tempat pelarian sementara dari kepenatan hidup sehari-hari. Dari tugas dan pekerjaan yang menumpuk. Dari beban psikis akibat kenyataan yang tak sesuai harapan. Lupakan sementara, santai sejenak.
Berharap udara bersih
pegunungan akan mengisi rongga-rongga jiwa dengan semangat yang kembali
menyala. Merefresh pikiran untuk kembali segar dan siap menjemput rutinitas.
Pun mentadabburi alam sebagai lukisan terindah dari pelukis paling agung. Sang
Pencipta tanpa tanding. Menyadari betapa pandirnya kita di hadapan
kemahakuasaan Allah.
Di luar dugaan. Hanya dalam beberapa jam kawasan ini penuh dengan tenda. Pesertanya pun sejenis dengan rombongan saya, didominasi emak-emak. Malah yang ini lebih nekad, mengangkut keluarga dan isi dapur, tak ketinggalan perabot kamar tidurnya pun dibawa. Tetapi tetap kalah ekstrim dengan rombongan saya. Tak satupun dari mereka yang membawa serta rice cooker seperti yang rombongan saya bawa. Pemandangan ini membuat kelompok anak muda, yang juga mendirikan tenda di lokasi ini, melongo. Mungkin mau ketawa tapi takut dosa.
Oh, iya anak-anak muda ini begitu baik, membantu kami merangkai tenda. Kalau tidak, kami akan kebingungan menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya. Merangkai tenda sepertinya lebih susah dari membuat PPt, hehe.
Melihat ramainya emak-emak mendirikan tenda. Tak terasa hati saya berbisik penuh heran. Ah gila. Apa bumi ini sudah beredar di luar orbitnya, sampai emak-emak pun ikut-ikutan camping. Ini adalah bentuk intervensi paling nyata ke daerah kekuasaan anak muda. Bukankah camping semacam ini adalah wilayahnya anak muda?
Tetapi sudahlah. Saya kira hal Ini wajar, mudah-mudahan membawa pengaruh positif. Setidaknya para orang tua perlahan-lahan akan lebih memahami dunia anak muda sehingga gap pemikiran di antara dua generasi ini semakin bisa terjembatani.
Silang pemahaman keduanya memang rentan membuat keterpecahan. Bukan hanya dalam tataran keluarga tetapi juga dalam hal bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diperlukan orang tua bijaksana yang mampu menyelami lubuk terdalam pemikiran anak muda. Hanya orang tua yang demikian yang mampu bersikap arif dan bijaksana pembawa kesejukan bagi generasi penerusnya.
Bisa jadi suatu saat
dibutuhkan camping terpadu antara anak-anak dan orang tua agar kesepahaman
semakin terjalin. Begitu banyak problem bisa selesai dengan pertemuan-pertemuan
tidak formal seperti ini. Hubungan akan mencair dan sekat-sekat akan pupus.
Selamat datang emak-emak milineal..


0 komentar:
Posting Komentar