Channel YouTube

Rabu, 24 April 2019

Guru di Negeri Impian

Semester awal kuliah di IKIP para mahasiswa sibuk beradaptasi dengan suasana kampus dengan lingkungannya termasuk dengan teman-teman baru. Di sela-sela menunggu dosen kami biasa berbincang-bincang mengakrabkan diri.  Salah satu tema perbincangan yang masih terkesan adalah membahas pertanyaan tentang “mengapa memilih kuliah di IKIP?” Atau lebih konkretnya, “mengapa bercita-cita jadi guru?”

Teman-teman yang terlibat dalam diskusi dadakan itu, mempunyai jawaban yang bervariasi. Tetapi jawaban yang membuat saya melongo adalah jawaban dari salah seorang teman yang mengatakan bahwa dia kuliah di IKIP karena berkali-kali mendaftar di perguruan tinggi negeri yang lain tetapi tidak lulus, maka diapun mencoba keberuntungan mendaftar di IKIP dan ajaibnya dia lulus. “Jadi saya kuliah di IKIP hanya pelarian daripada tidak kuliah, kuliah di pabrik gurupun tidak masalah”, begitu katanya. Malah ada yang mengaku hingga percakapan itu berlangsung, dia masih kebingungan mengapa harus kuliah di IKIP yang akan mengarahkan dirinya kelak menjadi guru. Masih ada jawaban dengan versi lain, dari sudut pandang ekonomi. “Saya kuliah di IKIP supaya cepat dapat pekerjaan”, kata teman yang lain dengan singkat, padat dan jelas.


Perbincangan ini memberikan fakta bahwa tidak semua mahasiswa keguruan benar-benar tertarik menjadi guru. Dan bisa dikatakan bahwa tidak semua guru termotivasi menjadi guru karena panggilan jiwa untuk mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Ini perlu ditekankan karena motivasi sangat menentukan prilaku seseorang terhadap profesi yang dipilihnya.Entahlah hari ini. Tetapi dahulu kala, menjadi mahasiswa keguruan itu dianggap rendahan. Tempat pelarian, setelah tidak lulus di tempat lain, alias pilihan terakhir. Maka jangan heran jika saat itu istilah yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa keguruan adalah istilah “IKIP ji”.  Jika ada yang tanya, “kuliah di mana?” kadang ada yang spontan menjawab, “di IKIP ji om”. Sebuah ungkapan yang tidak saja merendahkan tetapi juga menguras rasa percaya diri.

Untuk memperbaiki kualitas guru yang juga berarti memajukan kualitas pendidikan, saya kira salah satunya adalah dengan memulai dari titik ini. Menjadikan guru sebagai profesi terhormat dan pantas dibanggakan.

Izinkan saya untuk bermimpi tentang sebuah negeri.  Negeri yang menjadikan kampus-kampus keguruan sebagai kampus terbaik dengan fasilitas lengkap, dibimbing oleh dosen-dosen hebat dan ahli di bidangnya. Kampus keguruan di negeri itu menjadi impian generasi-generasi terbaiknya. Mereka berlomba-lomba menjadikan kampus keguruan sebagai tempatnya menimbah ilmu. Bukan karena terpaksa, tetapi karena kesungguhan hatinya.

Kampus itu diyakini bisa memenuhi dahaganya akan ilmu pengetahuan. Mereka bangga dan menikmati masa belajarnya sebagai calon guru. Seleksi masuk kampus itu juga tidak main-main, benar-benar selektif. Persaingan sangat ketat karena peminatnya yang berjubel. Mereka yang lulus dipastikan adalah orang-orang terbaik. Wajar! karena mereka adalah calon-calon guru yang sangat menentukan arah bagi masa depan bangsanya.

Kampus yang berkualitas bukan satu-satunya daya tarik generasi terbaik negeri itu untuk menjadi guru. Negeri yang sedang kita impikan ini menjadikan guru sebagai profesi yang sangat terhormat. Bukan dengan jargon-jargon kosong penghibur larah. Bukan juga janji –janji semu yang dengan cepat dilupakan secepat mengucapkannya.  Kesejahteraannya benar-benar terjamin hak-haknya pun terpenuhi. 

Tidak ada ceritanya siswa dan orang tua melecehkan dan menghina guru, sebab guru memiliki kompetensi yang terukur dan sangat profesional. Mereka menjalankan tugas berdasar pada SOP (standard Operating Prosedur) dan panduan yang jelas, disiplin dan penuh tanggung jawab. Hal ini dimungkinkan karena mereka terlahir dari hasil seleksi yang ketat, dibina melalui proses pembelajaran yang tepat di perguruan tinggi yang berkualitas juga dengan tenaga-tenaga dosen yang berdedikasi tinggi.

Karena kesejahteraannya terjamin, guru fokus pada tugasnya. Tidak ada guru yang nyambi jadi tukang ojek, buruh bangunan, pemulung dan pekerjaan-pekerjaan sampingan lainnya yang bisa mengganggu tugasnya. Mereka bisa tampil di hadapan siswanya dan juga dengan siapa saja dengan penuh wibawa, dihormati dan dan diteladani. Mereka dihormati bukan sekedar karena pertimbangan materi tetap karena ilmu dan sikap keteladannya.

Guru di negeri impian melek teknologi. Tak perlu pelatihan khusus IT yang sekedar melatih mereka membuat email, membuat PPT dan cara memindahkan file dari flashdisk ke laptop atau sebaliknya. Mereka sudah sangat terlatih sejak di bangku sekolah dan bangku kuliah. Tidak heran jika siswanya antusias mengikuti pembelajaran. Tidak ada siswa bolos atau tertidur di kelas, yang ada siswa yang ketagihan belajar. Bagaimana tidak! Guru mengajar dengan model-model pembelajaran yang menarik didukung oleh fasilitas pembelajaran dengan teknologi terkini. 

Pembelajaran tidak hanya berlangsung di kelas tetapi juga di luar kelas. Guru bisa terhubung dengan siswanya secara online di mana saja melalui aplikasi yang dibuat oleh guru sendiri yang dibenamkan ke dalam laptop atau smartphone siswa. Di negeri impian smartphone benar-benar digunakan untuk pembelajaran bukan hanya bermain medsos atau main game seperti kesibukan siswa pada sebuah negeri di dunia nyata.

Fasilitas pembelajarannya lengkap? Anggarannya darimana? Wah, jangan salah Bung. Negeri impian adalah negeri yang kaya raya. Alamnya subur dijejali dengan sumber daya alam yang melimpah. Itulah sebabnya di masa lampau, negeri impian menjadi rebutan bangsa-bangsa penjajah. Bukan hanya itu, pembesar-pembesarnya sangat bijak, 20% anggaran belanjanya dialokasikan untuk membiayai bidang pendidikan.

Anggaran benar-benar digunakan semestinya untuk pengembangan pendidikan. Melengkapi sarana prasarana pembelajaran, meningkatkan kompetensi guru, serta memperbaiki sistem pendidikan.  Tidak ada kebocoran anggaran. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang adalah berita langkah di negeri itu. Kenapa? Karena negeri impian di bangun di atas dasar Ketuhanan, pejabatnya jauh lebih takut kepada Tuhan dari pada kemiskinan. Mereka juga sadar betul bahwa mengurus pendidikan sama saja dengan mengurus keberlangsungan generasi,  yang juga berarti keberlangsungan negara. Jadi bermain-main dengan masalah pendidikan sama saja dengan mempermainkan nasib bangsa di masa depan. Ngeri bukan?

Guru di negeri impian sangat bebas mengembangkan kemampuannya. Selain dapat gaji bulanan, mereka juga dapat tunjungan profesi sebesar 1 bulan gaji. Mereka menggunakannya untuk melengkapi diri dengan alat dan sarana pembelajaran terkini. Dengan tunjangan itu mereka juga bisa mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan kependidikan. Berlangganan media cetak maupun online, dan tidak lupa belanja buku tiap bulan. Hebat kan?

Sayangnya kita hidup di alam nyata, bukan di alam mimpi! 

0 komentar:

Posting Komentar