Semester awal kuliah di IKIP para mahasiswa sibuk
beradaptasi dengan suasana kampus dengan lingkungannya termasuk dengan
teman-teman baru. Di sela-sela menunggu dosen kami biasa berbincang-bincang
mengakrabkan diri. Salah satu tema
perbincangan yang masih terkesan adalah membahas pertanyaan tentang “mengapa
memilih kuliah di IKIP?” Atau lebih konkretnya, “mengapa bercita-cita jadi
guru?”
Teman-teman yang terlibat dalam diskusi dadakan itu, mempunyai jawaban yang bervariasi. Tetapi jawaban yang membuat saya melongo adalah jawaban dari salah seorang teman yang mengatakan bahwa dia kuliah di IKIP karena berkali-kali mendaftar di perguruan tinggi negeri yang lain tetapi tidak lulus, maka diapun mencoba keberuntungan mendaftar di IKIP dan ajaibnya dia lulus. “Jadi saya kuliah di IKIP hanya pelarian daripada tidak kuliah, kuliah di pabrik gurupun tidak masalah”, begitu katanya. Malah ada yang mengaku hingga percakapan itu berlangsung, dia masih kebingungan mengapa harus kuliah di IKIP yang akan mengarahkan dirinya kelak menjadi guru. Masih ada jawaban dengan versi lain, dari sudut pandang ekonomi. “Saya kuliah di IKIP supaya cepat dapat pekerjaan”, kata teman yang lain dengan singkat, padat dan jelas.
Perbincangan ini memberikan fakta bahwa tidak semua
mahasiswa keguruan benar-benar tertarik menjadi guru. Dan bisa dikatakan bahwa
tidak semua guru termotivasi menjadi guru karena panggilan jiwa untuk
mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Ini perlu ditekankan karena motivasi
sangat menentukan prilaku seseorang terhadap profesi yang dipilihnya.Entahlah hari ini. Tetapi dahulu kala, menjadi mahasiswa
keguruan itu dianggap rendahan. Tempat pelarian, setelah tidak lulus di tempat
lain, alias pilihan terakhir. Maka jangan heran jika saat itu istilah yang
sangat terkenal di kalangan mahasiswa keguruan adalah istilah “IKIP ji”. Jika ada yang tanya, “kuliah di mana?” kadang
ada yang spontan menjawab, “di IKIP ji om”. Sebuah ungkapan yang tidak saja
merendahkan tetapi juga menguras rasa percaya diri.
Untuk memperbaiki kualitas guru yang juga berarti memajukan
kualitas pendidikan, saya kira salah satunya adalah dengan memulai dari titik
ini. Menjadikan guru sebagai profesi terhormat dan pantas dibanggakan.
Izinkan saya untuk bermimpi tentang sebuah negeri. Negeri yang menjadikan kampus-kampus keguruan
sebagai kampus terbaik dengan fasilitas lengkap, dibimbing oleh dosen-dosen hebat
dan ahli di bidangnya. Kampus keguruan di negeri itu menjadi impian generasi-generasi
terbaiknya. Mereka berlomba-lomba menjadikan kampus keguruan sebagai tempatnya menimbah
ilmu. Bukan karena terpaksa, tetapi karena kesungguhan hatinya.
Kampus itu diyakini bisa memenuhi dahaganya akan ilmu
pengetahuan. Mereka bangga dan menikmati masa belajarnya sebagai calon guru.
Seleksi masuk kampus itu juga tidak main-main, benar-benar selektif. Persaingan
sangat ketat karena peminatnya yang berjubel. Mereka yang lulus dipastikan
adalah orang-orang terbaik. Wajar! karena mereka adalah calon-calon guru yang
sangat menentukan arah bagi masa depan bangsanya.
Kampus yang berkualitas bukan satu-satunya daya tarik
generasi terbaik negeri itu untuk menjadi guru. Negeri yang sedang kita impikan
ini menjadikan guru sebagai profesi yang sangat terhormat. Bukan dengan
jargon-jargon kosong penghibur larah. Bukan juga janji –janji semu yang dengan
cepat dilupakan secepat mengucapkannya. Kesejahteraannya
benar-benar terjamin hak-haknya pun terpenuhi.
Tidak ada ceritanya siswa dan orang tua melecehkan dan
menghina guru, sebab guru memiliki kompetensi yang terukur dan sangat
profesional. Mereka menjalankan tugas berdasar pada SOP (standard Operating Prosedur) dan panduan yang jelas, disiplin dan
penuh tanggung jawab. Hal ini dimungkinkan karena mereka terlahir dari hasil
seleksi yang ketat, dibina melalui proses pembelajaran yang tepat di perguruan
tinggi yang berkualitas juga dengan tenaga-tenaga dosen yang berdedikasi tinggi.
Karena kesejahteraannya terjamin, guru fokus pada tugasnya.
Tidak ada guru yang nyambi jadi tukang ojek, buruh bangunan, pemulung dan
pekerjaan-pekerjaan sampingan lainnya yang bisa mengganggu tugasnya. Mereka
bisa tampil di hadapan siswanya dan juga dengan siapa saja dengan penuh wibawa,
dihormati dan dan diteladani. Mereka dihormati bukan sekedar karena
pertimbangan materi tetap karena ilmu dan sikap keteladannya.
Guru di negeri impian melek teknologi. Tak perlu pelatihan
khusus IT yang sekedar melatih mereka membuat email, membuat PPT dan cara
memindahkan file dari flashdisk ke
laptop atau sebaliknya. Mereka sudah sangat terlatih sejak di bangku sekolah
dan bangku kuliah. Tidak heran jika siswanya antusias mengikuti pembelajaran.
Tidak ada siswa bolos atau tertidur di kelas, yang ada siswa yang ketagihan
belajar. Bagaimana tidak! Guru mengajar dengan model-model pembelajaran yang
menarik didukung oleh fasilitas pembelajaran dengan teknologi terkini.
Pembelajaran tidak hanya berlangsung di kelas tetapi juga di
luar kelas. Guru bisa terhubung dengan siswanya secara online di mana saja
melalui aplikasi yang dibuat oleh guru sendiri yang dibenamkan ke dalam laptop
atau smartphone siswa. Di negeri impian smartphone benar-benar digunakan untuk
pembelajaran bukan hanya bermain medsos atau main game seperti kesibukan siswa
pada sebuah negeri di dunia nyata.
Fasilitas pembelajarannya lengkap? Anggarannya darimana? Wah, jangan salah Bung. Negeri impian adalah negeri yang kaya raya. Alamnya subur dijejali dengan sumber daya alam yang melimpah. Itulah sebabnya di masa lampau, negeri impian menjadi rebutan bangsa-bangsa penjajah. Bukan hanya itu, pembesar-pembesarnya sangat bijak, 20% anggaran belanjanya dialokasikan untuk membiayai bidang pendidikan.
Anggaran benar-benar digunakan semestinya untuk pengembangan
pendidikan. Melengkapi sarana prasarana pembelajaran, meningkatkan kompetensi
guru, serta memperbaiki sistem pendidikan.
Tidak ada kebocoran anggaran. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang adalah
berita langkah di negeri itu. Kenapa? Karena negeri impian di bangun di atas
dasar Ketuhanan, pejabatnya jauh lebih takut kepada Tuhan dari pada kemiskinan.
Mereka juga sadar betul bahwa mengurus pendidikan sama saja dengan mengurus
keberlangsungan generasi, yang juga
berarti keberlangsungan negara. Jadi bermain-main dengan masalah pendidikan
sama saja dengan mempermainkan nasib bangsa di masa depan. Ngeri bukan?
Guru di negeri impian sangat bebas mengembangkan kemampuannya. Selain dapat gaji bulanan, mereka juga dapat tunjungan profesi sebesar 1 bulan gaji. Mereka menggunakannya untuk melengkapi diri dengan alat dan sarana pembelajaran terkini. Dengan tunjangan itu mereka juga bisa mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan kependidikan. Berlangganan media cetak maupun online, dan tidak lupa belanja buku tiap bulan. Hebat kan?
Sayangnya kita hidup di alam nyata, bukan di alam mimpi!

0 komentar:
Posting Komentar