Duduk bersama di sebuah
warkop setelah 20-an tahun berlalu, sekumpulan mahasiswa zaman old saling membaca diri. Secara fisik banyak yang berubah, ada yang
kepalanya sudah dipenuhi uban (seperti saya, hehe), ada yang dulu kurus dan
tidak terurus kini tampil dengan body gempal mirip bodyguard, necis pula. Yang
dulu agak redup kini tampil bercahaya bak bintang kejora. Ini karena pengaruh
uang, kata Amir ketika mengomentari gaya teman-teman di grup Whatsapp.
Bisa jadi! Kok bisa? Ya… dulu gaya hidup sangat dipengaruhi oleh
kelancaran “amunisi” kiriman orang tua dari kampung. Sialnya, kiriman seringkali terlambat membuat
tatanan gaya hidup pun tidak beraturan. Begitu kira-kira korelasi sederhananya
(hanya mengira-ngira loh, makhlum saya bukan anak kost). Hebatnya di zaman itu
penampilan tidak menjadi yang utama. Yang terpenting adalah selesaikan kuliah
undang keluarga dari kampung, kalau perlu sewa beberapa bis untuk menghadiri
wisuda titik. Tidak peduli setelah itu akan menjadi pengangguran intelek atau
seperti ungkapan yang sangat familiar dulu; “merdeka tapi pusing”, sehari
merdeka pusingnya berhari-hari.
Sesi pesan menu. Nah di
sinilah titik krusialnya. Pesanannya mulai bervariasi. Tidak seperti dulu yang nyaris seragam dan
sangat terukur (diukur berdasarkan penghuni dompet tentunya). Pokoknya kali ini
bervariasi broo…Ada yang pesan teh tidak pakai gula, ada yang pesan air putih
saja, ada yang menghindari makanan yang berlemak dan memilih sajian yang alami
saja. Pilihan-pilihan ini tidak lagi dipengaruhi oleh penghuni dompet, tetapi
lebih mengarah ke persoalan riwayat kesehatan. Point pentingnya saya kira
adalah seperti kata Ratu, “ dulu tidak ada uang tetapi semua jenis makanan
bebas kita makan, bahkan rumputpun kalau dikasih kecap mau saya makan”, katanya
bercanda. “Sekarang uang ada tetapi
makanan serba dibatasi, sudah banyak pantangan”, sambung Salahuddin Si
Bolang dari Sinjai.
Satu hal yang tidak banyak
berubah adalah karakter kami. Yang suka
kocak tetap saja kocak, yang sejak dulu kalem sekarang pun tetap kalem (kalem
asli loh..bukan kaya’ lembu), yang dulu santai-santai saja sekarang pun tampil
dengan gaya santainya. Saya termasuk yang mana ya? Karakter memang lebih sulit
berubah dibanding dengan penampakan fisik. Karena karakter sangat berkaitan
dengan kebiasaan atau para ahli menyebutnya habits, suatu aktivitas yang
dilakukan terus menerus sehingga melekat pada diri seseorang. Ustadz Felix
mendefinisikannya sebagai sesuatu yang kita lakukan secara otomatis, bahkan
kita melakukannya tanpa berpikir.
Makanya para penganjur
kebaikan sering-sering berwasiat untuk membiasakan perbuatan baik. Berhati-hatilah dengan kebiasaan Anda,
karena pada awalnya Andalah yang menciptakan kebiasaan tetapi pada akhirnya
Anda akan menjadi tawanan kebiasaan itu. Demikianlah kata-kata bijak yang
sering saya ulang bahkan sampai anak-anak saya bosan mendengarnya. Bisa dibayangkan betapa bahayanya kalau
tertawan oleh kebiasaan buruk yang kita ciptakan sendiri. Sebaliknya betapa bahagianya
mereka yang terbiasa dengan perbuatan baik sehingga itulah yang menjadi
karakternya. Contohnya ya teman kita ini, siapa lagi kalau bukan Hj. Suri (Suriatmah
– nama di absen perkualihan) yang menurut pengamatan saya selalu pasang badan setiap ada jumpa-jumpa
dengan teman, termasuk hari ini. Oh ya..terima kasih bu Hajjah atas
traktirannya semoga rezekinya semakin bertambah dan berkah, dan satu lagi
semoga dapat dicontoh oleh teman yang lain.
Historia
Magistra Vitae, sejarah adalah guru
kehidupan. Kalau pertemuan hari ini dianggap bersejarah, lalu apa pelajaran
pentingnya? Bagi Andi Ija mungkin yang tidak terlupakan adalah ketika dia
tampil di panggung menerima kipas angin, doorprize yang dia menangkan. Tetapi
saya kira bukan itu, terlalu rendah motif pertemuan ini kalau hanya untuk
sebuah kipas angin atau doorprize lainnya (andaipun saya dapat pasti dengan
sangat ikhlas saya akan menerimanya, hehe). Sekali lagi bukan itu. Menurut
penerawangan saya, pelajaran terpenting dari pertemuan hari ini adalah :
Perubahan.
Salah satu hukum alam yang
pasti terjadi adalah perubahan, tidak satupun makhluk yang langgeng dengan
keberadaannya semuanya tunduk pada hukum perubahan. Diam-diam saya membaca
guratan demi guratan yang menggores wajah-wajah kami. Tuhan, sebangga apapun
kami dengan tampilan fisik ini, hukum-Mu pula yang berlaku, kami sedang
berproses menuju ketidakabadian fisik menuju keabadian hidup setelah mati.
Tanda-tanda itu begitu Nampak di wajah-wajah kami. Tuhan ajari kami untuk
menghindari sekecil apapun bentuk keangkuhan dalam diri kami, jangan biarkan
hati kami menjadi sarang kesombongan atas setitik sukses yang engkau
titipkan. Engkaulah yang berhak atas
kesombongan itu, persempit jalan bagi kami untuk mengenakannya.
Saya tersentak ketika
Hasruddin tiba-tiba berbicara tentang masa pensiun yang tinggal belasan tahun
lagi. Dalam hati saya juga ikut menghitung. Dekat, demikian dekat waktu itu,
sementara saya merasa belum berbuat apa-apa. Saya kerdil rasanya di hadapan
orang-orang hebat yang bahkan usianya jauh di bawah saya.
Teman-teman! waktu, sekali
lagi waktu. Jangan bermain-main dengan waktu karena waktu tidak pernah berhenti
untuk berputar dan masa lalu tidak pernah balik lagi. Konon orang Arab
mengibaratkan waktu laksana pedang, bermain-main dengan waktu suatu saat nanti
kita akan tersabet olehnya. Maka bergegaslah mengumpulkan sebanyak mungkin
kebaikan sebelum waktu memaksa perubahan menggilas kita. Fastabikul khairat
(berlomba-lombalah dalam kebaikan) demikian pesan Allah dalam Qur’an Suci.
Akhirnya.
Tuhan meski kami sadar
dengan ketidakabadian tetapi kami mohon berkati usia kami, sehatkan raga kami
untuk selalu dapat merawat dan memelihara dengan baik persahabatan ini. Eratkan
persahabatan kami atas dasar kecintaan kepada-Mu. Terima kasih Tuhan atas pertemuan
singkat ini!
Aamiin


0 komentar:
Posting Komentar