Peringatan Hari Pendidikan
Nasional tahun ini mengangkat tema “ Menguatkan Pendidikan, Memajukan
Kebudayaan.” Tema ini kembali mengingatkan kita tentang eratnya kaitan antara pendidikan dan kebudayaan.
Mungkin karena itulah keduanya digabung dalam satu kementrian yang disebut
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan, melestarikan dan mentrasfer
budaya atau bahkan menciptakan budaya baru. Demikian pula, budaya adalah sumber
inspirasi dan dasar pijakan dalam pengembangan pendidikan. Sehingga kita dapat
menyaksikan bahwa tradisi pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh budaya
yang dianut oleh masyarakat pendukungnya.
Keterkaitan antara pendidikan dan kebudayaan telah dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat.
Penjelasan ini memberikan
gambaran bahwa pendidikan hakikatnya adalah penanaman dan penguatan karakter
yang baik kepada peserta didik, yang sebenarnya adalah embrio dari sebuah
masyarakat. Pada akhirnya harus diakui bahwa pendidikan adalah upaya
mempersiapkan, membina dan memelihara masyarakat yang beradab. Untuk itu
pendidikanlah yang berperan dalam memastikan masyarakat tetap terikat dengan budayanya. Tanggung jawab ini sangat berat. Karena itu harus dipikul
bersama oleh tiga lembaga yang disebut tri pusat pendidikan, yaitu; keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Keluarga adalah madrasah
pertama seorang anak. Dalam ruang-ruang keluarga anak-anak diperkenalkan
karakter, seperti adat sopan santun, kejujuran, saling hormat menhormati dan
nilai-nilai luhur lainnya. Dalam keluarga pulalah anak-anak ditanamkan keimanan
dan ketakwaan yang menjadi rumah besar bagi bersemayamnya karakter yang baik
dalam diri anak-anak. Diperlukan kerja sama dan saling memahami peran
masing-masing dari anggota keluarga untuk mengembang tugas ini. Ayah dan Ibu
memegang peranan yang paling menentukan. Mereka berdua adalah role model bagi
anak-anaknya. Anak punya kecenderungan untuk meniru ucapan, tindakan atau
kebiasaan yang sering diperlihatkan oleh orang tuanya. Jika orang tua
menginginkan anak-anaknya berkarakter baik maka orang tua berkewajiban untuk memberi
teladan terhadap prilaku-prilaku baik yang ingin ditanamkan dalam jiwa anak.
Keluarga juga harus menjadi tempat bernaung yang memberi rasa aman dan nyaman
bagi tumbuh kembang anak-anak baik secara fisik maupun spikis. Andai keluarga
bisa menjalankan perannya dengan benar maka separuh dari problem pendidikan
kita hari ini selesai.
Sekolah adalah lembaga kedua
yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan pendidikan. Tempat anak-anak
berinteraksi dengan guru dan teman-teman sebayanya. Anak-anak datang dari
berbagai lembaga keluarga dengan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda.
Tugas sekolah adalah memberi jaminan bagi tumbuhnya budaya yang saling memahami
dan toleransi terhadap perbedaan. Anak-anak harus bisa bekerja sama dengan
teman-teman mereka tanpa mempersoalkan keragaman yang ada. Bahwa keragaman
bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk disinergikan dalam kebersamaan
mencapai cita-cita bersama.
Sekolah menjadi laboratorium
budaya terbesar, tempatnya menguji
budaya yang sesuai dengan kepribadian bangsa, budaya yang mendukung kemajuan,
serta budaya akan memuliakan manusia. Sekolah harus memerdekakan manusia dari
budaya merusak yang akan mencederai bangsa ini dan akan memerosokkan manusia ke
dalam jurang kehinaan. Upaya ini diintegrasikan dalam pembelajaran di kelas,
kegiatan ekstrakurikuler serta aktivitas sekolah yang lain. Semua komponen sekolah harus memahami tugas
ini, kepala sekolah, guru, pegawai, dan unsur lainnya yang terlibat langsung
maupun tidak langsung dalam proses pendidikan.
Jika dalam keluarga orang
tua adalah role model bagi anak-anak maka di sekolah guru adalah role
model-nya. Guru harus tampil menjadi contoh bagi karakter yang ingin ditanamkan
kepada peserta didik. Sekolah juga harus menjadi rumah yang aman dan nyaman tempat
peserta didik mendapatkan kedamaian dalam menyelami ilmu pengetahuan,
berpetualang melalui pengalaman-pengalaman yang menarik dengan teman sebayanya
dan menikmati keteladanan dari guru-gurunya. Peranan sekolah yang seperti ini
bisa terwujud hanya jika mendapat sokongan kuat dari negara terkait regulasi
dan kebijakan yang propendidikan.
Berikutnya lingkungan.
Lingkungan yang dimaksud adalah masyarakat. Masyarakat adalah tempatnya peserta
didik hidup dan bergaul bukan hanya dengan teman sebayanya tetapi juga dengan
orang lain dan juga dengan lembaga-lembaga lain. Kehidupan masyarakat
sedemikian kompleks, jika peserta didik tidak cukup bekal maka mereka akan
asing di tengah keramaian atau malah bisa tenggelam dalam arus kehidupan yang
merusak. Bekal yang dimaksud adalah karakter, kompetensi yang diperoleh dari keluarga dan sekolah.
Sebagai lembaga pendidikan,
masyarakat semestinya menjadi tempat bersemainya budaya dan karakter yang
membangun. Anggota masyarakat harus bahu membahu menyiapkan lahan yang kondusif
bagi tumbuhnya karakter yang baik bagi masyarakat secara menyeluruh. Dalam
ajaran Islam dikenal istilah amar ma'ruf nahi mungkar. Ajaran yang
mengedepankan kebersamaan dalam masyarakat, merasa turut bertanggung jawab atas
apapun yang terjadi. Amar ma'ruf berarti saling mengajak untuk berbuat baik,
sedangkan nahi mungkar adalah saling mengingatkan untuk bersama-sama
menghindari kemungkaran atau kerusakan. Amar ma'ruf nahi mungkar akan
membentengi masyarakat dari prilaku amoral yang akan merusak moral anak-anak
kita.
Jelaslah bahwa budaya dan
pendidikan tidak bisa dilepaskan. Keduanya memiliki porsi yang sama dalam
mewujudkan manusia seutuhnya. Orang yang terdidik bukan hanya mereka yang
pintar secara intelektual tetapi juga mereka yang tidak tercerabut dari akar
budayanya. Pikirannya boleh saja dipenuhi oleh teori-teori ilmu dan filsafat
Barat atau Timur tetapi kepribadiannya tetap berpijak pada kearifan budaya
lokal miliknya. Budaya yang sesuai dengan fitranya sebagai makhluk ciptaan
Allah yang mempunyai kewajiban untuk tunduk dan taat atas perintah-Nya. Maka
Pendidikan yang berbudaya sesungguhya adalah pendidikan yang menumbuhkan
kesadaran akan kedudukan manusia sebagai hamba Allah sekaligus sebagai
khalifah-Nya di muka bumi.

0 komentar:
Posting Komentar