Ramadhan adalah bulan Tarbiyah, bulan pendidikan. Kita dididik untuk membiasakan perbuatan baik yang bernilai ibadah, mempertahankan puasa dari hal-hal pembatal. Dan itu butuh perjuangan berat. Kalau sekedar menahan diri dari makan dan minum, gampang tetapi menahan mulut dari bergunjing, menahan hati dari buruk sangka, menahan tangan dari melakukan perbuatan sia-sia, ini yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Pantas kalau orang yang berhasil melalui ujian Ramadhan diberi gelar manusia takwa, level kemanusiaan yang paling terhormat yang dengannya manusia akan dinilai di hadapan Allah. Manusia takwa, jenis manusia yang ingin dihasilkan oleh Ramadhan ini kehadirannya sangat dibutuhkan, tetapi sayangnya manusia jenis ini semakin langkah.
Maka puasa sebagai ibadah utama Ramadhan harus dilatihkan sejak kecil, meskipun bagi anak-anak puasa tidaklah wajib. Namun melatihnya adalah suatu keharusan.
Saya dilatih berpuasa oleh orang tua saya pada usia 7 tahun. Dan langsung puasa full, menurut versi ayah saya, kalau versi saya tentu beda (hehe). Yang paling berat ada dua, pertama menahan lapar dan haus yang kedua bangun makan sahur. Ini untuk puasa standar anak-anak, orang dewasa tentu beda standarnya, semakin banyak variabel yang perlu diperhitungkan.
Bagaimana saya bisa "bertahan" dari godaan lapar dan haus? Ayah saya menjanjikan pakaian yang terbaik untuk lebaran. Dan ini dibuktikan. Saya pada akhirnya bisa tampil beda di lapangan tempat penyelenggaraan shalat Id. Dengan stelan jas lengkap saya berjalan dengan penuh kebangggaan membuat anak-anak lain menatap heran. Maklum pakaian model ini tak banyak yang mampu membelinya. Belum ada orang tua di kampung saya yang nekat memanjakan anaknya dengan pakaian semewa itu apalagi ukuran ayah saya yang hanya pedagang sayur keliling. Anaknya Kepala Desa saja sampai melotot, entah apa yang dipikirkannya.
Untuk memastikan bahwa semua anak-anaknya berpuasa, ayah saya tidak hanya menjanjikan hadiah, tetapi juga menebar kecemasan, "Siapa yang tidak puasa akan diberi makan dengan nasi basi dan tulang ikan," sebuah menu dengan kombinasi yang cukup menakutkan untuk anak-anak di bawah umur. Dan Saya tidak punya pemikiran aternatif selain bahwa ayah saya tidak pernah bermain-main dengan hukum yang dia buat. Maka selapar dan sehaus apapun, saya harus bertahan.
Bangun sahur. Nah, ini masalah berat kedua. Saya terkadang dikeroyok dibangunkan oleh ayah, ibu dan kakak saya. Mereka seperti beradu trik membangunkan raksasa tidur. Ibu dengan teriakan khasnya sambil meracik bumbu di dapur, kakak saya dengan gelitiknya disertai cubitan kesal. Namun, biasanya yang berhasil membangunkan adalah ayah.
Ayah tidak bersuara, dia hanya mendatangi tempat tidur, mengangkat saya, mendudukkan di depan piring nasi dan membasuh muka saya dengan air, hehe. Ini cara yang paling ampuh membuat kantuk tak berdaya. Aksi tanpa kata, operasi senyap!
Ayah dan ibu saya meskipun pemahaman keagamaannya sangat terbatas, tetapi dari keterbatasan itu mereka paham bahwa penanam nilai-nilai ketakwaan harus diusahakan sedini mungkin, sejak kecil. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda, "Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika telah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia." Dalam hal melatih anak-anak berpuasa, sebuah riwayat menceritakan bahwa para sahabat Nabi biasa menyediakan mainan yang terbuat dari bulu (sejenis boneka) untuk anak-anak mereka saat berpuasa. Jika anak-anak menangis mereka membujuk dengan memberikan mainan itu.
Pada intinya adalah bagaimana menanamkan ketaatan pada perintah Allah sejak dini. Anak-anak yang sudah terbiasa melakukan ketaatan sejak kecil biasanya akan terbawa hingga dewasa, demikian pula sebaliknya.
Ramadhan adalah waktu yang terbaik untuk mengajarkan dan membiasakan perbuatan baik. Puasa, shalat berjamaah, tilawah Qur'an, sedekah dan amalan-amalan baik lainnya. Demikian pula dengan pendidikan pengembangan diri misalnya dengan melatih percaya diri anak melalui praktek MC, kultum, adzan atau tilawah Qur'an di masjid-masjid.
Konon kebiasaan yang terus menerus diulang-ulang selama 30 hari akan menjadi habbit. Suatu kebiasaan yang secara otomatis muncul ketika menghadapi situasi tertentu, reaksi otomatis bahkan tanpa dipikirkan. Orang yang terbiasa minum kopi di pagi hari akan merasakan keanehan jika suatu saat dia tidak menemukan secangkir kopi di pagi hari. Orang yang terbiasa tidur siang pada jam 2 siang akan merasakan kantuk ketika jam 2 siang belum juga beranjak tidur. Orang yang terbiasa bergegas ke masjid ketika terdengar adzan akan kelihatan gelisah saat diminta menyelesaikan pekerjaan di saat adzan sudah berkumandang. Orang yang terbiasa bangun sahur pada jam 3 dinihari secara otomatis akan terbangun pada waktu itu meskipun tidak dibangunkan. Demikian seterusnya.
Semoga Ramadhan tahun ini kita jadikan sebagai waktu terbaik untuk menumbuhkan kebiasaan baik dalam diri, kekuarga, dan lingkungan kita. Insya Allah kita semua benar-benar akan menjadi manusia takwa yang didambakan.

0 komentar:
Posting Komentar