Hari ini mengantar Fathan mengikuti wisuda santri. Wisuda santri TK/TPA ini bertempat di kampus Samata UIN Alauddin Makassar, serasa wisuda mahasiswa. Masuk kampus, melihat orang-orang bertoga, mengingatkan masa-masa itu. Puluhan tahun silam. Ketika menggunakan kostum yang sama, pakai jubah kebesaran bermahkotakan toga, sah menjadi sarjana. Meskipun sensasi sarjana waktunya hanya sebentar. Yang lama, pusing mau kerja apa.
Wisuda sarjana sama saja dengan wisuda santri. Pengantar lebih banyak dari wisudawannya. Satu orang wisudawan diantar minimal satu pete-pete (angkot) belum lagi yang berkendaraan roda dua. Bisa dibayangkan betapa membludaknya. Kalau kampusnya di jalan Poros, pengguna jalan siap-siap menikmati kemacetan.
Teman saya dari daerah malah menyewa satu bus untuk mengangkut keluarganya. Di negara maju, ada tidak yang beginian. Hehe.
Saya wisuda tahun 1997. Malam sebelum wisuda, ibu-ibu tetangga berkumpul di rumah. Menyiapkan hidangan untuk pengantar dan tamu. Prediksi ibu saya, besok akan banyak orang bertamu. Ini peristiwa langka. Untuk pertama kalinya ada wisudawan dari kampung ini. Dan orang itu adalah saya, istimewa kan?
Ke kampus, diantar dua mobil. Satu taksi, yang satunya pete-pete, yang naik motor entah berapa. Saya bersama bapak dan ibu di taksi. Bapak duduk di depan samping sopir pakai jas, lengkap dengan kopiah hitamnya. Kaca mobil diturunkan, sehingga dia bebas melambaikan tangan kepada teman-temannya, sesama pagandeng yang menjejali jalan. Dia kelihatan bahagia, bangga, akhirnya anak Mapala (Mahasiswa Paling Lama) ini wisuda juga. Setelah penantian yang melelahkan. Enam tahun.
Sementara ibu, hanya duduk dengan grogi di samping saya. Seumur-umur baru kali ini dia naik mobil bagus. Pak sopir saya minta untuk tidak menyalakan AC. kasihan ibu, bisa-bisa menggigil kedinginan.
Tahun 2006, wisuda lagi. Kali ini tanpa hiruk pikuk. Pengantarnya pun hanya dua orang, istri dan anak saya. Bertiga, naik motor. Pakai jubah wisuda dikombinasi helm. Seru sekali. Ini wisudawan atau cowboy sih...
Jika pada wisuda pertama menghabiskan rool film 36 kutip, wisuda kali ini tidak ada dokumentasi sama sekali. Terasa aneh juga, momen sepenting ini tidak diabadikan.
Tetapi dari sini kita bisa paham, ternyata ada banyak hal yang sebenarnya bisa disederhanakan, tetapi kadang dibuat rumit. Saking rumitnya sering lupa pada urusan yang sesungguhnya. Bingung, mana yang harus didahulukan, dan mana yang boleh ditunda.
Kembali ke wisuda santri hari ini. Bagi kalangan bawah, acara semacam ini adalah hiburan tersendiri. Bangga, tentu saja.
Saya perhatikan wajah-wajah orang tua yang mendampingi anaknya. Begitu bahagianya. Lebih antusias bahkan dari anaknya. Terlihat dari betapa sibuknya mereka mencari spot foto yang menarik. Yang lainnya malah tidak mempedulikan tempat, di mana ada kesempatan langsung jepret.
Bagi anak-anak, wisuda santri sangat penting. Untuk memberikan penghormatan, penghargaan akan capaian mereka. Dulu tidak ada wisuda santri. Cara mengapresiasi anak-anak yang tuntas pelajaran mengajinya adalah dengan acara khataman Qur'an, pesta khusus. Atau dirangkaikan dengan acara lain, perkawinan misalnya. Dibeberapa daerah, anak-anak ini diarak keliling kampung, menunggang kuda dengan pakaian adat.
Bisa membaca Al-Quran adalah prestasi luar biasa dan perlu dirayakan. Apresiasi ini dibutuhkan untuk memberi dorongan kepada anak-anak lebih semangat mempelajari Al-Quran. Semoga membekas hingga dewasa nanti, menjadi pengingat dan pengontrol diri.
Maka tidak boleh berhenti pada wisuda saja. Orang tua harus mengawal anak-anaknya agar konsisten membaca dan mempelajari Al-Quran. Meneruskan Kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah ditanamkan oleh guru-guru mereka di TK/TPA. Tentang Akhlakul karimah, menjaga shalat, membiasakan berdoa, hapalan Al-Quran, dan yang lainnya. Ciptakan kondisi rumah yang mendorong anak-anak konsisten pada nilai-nilai kebaikan.
Bukan hanya orang tua, pemerintah dan masyarakat secara umum juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk turut menjaga anak-anak ini. Melindungi mereka dari segala hal yang bisa merusak akhlak dan melemahkan gairah belajarnya.
Alumni TK/TPA adalah asset besar dalam membangun karakter bangsa. Sangat disayangkan seringkali orang tua dan juga pihak-pihak terkait lalai menyiapkan kondisi dan lingkungan yang layak bagi perkembangan mereka. Akhirnya, potensi ini tersia-siakan.


0 komentar:
Posting Komentar