Channel YouTube

Minggu, 06 Maret 2022

Korsleting

 

Foto: Shutterstock

Sulit membayangkan dunia tanpa listrik. Ketergantungan kita kepada sumber energi yang satu ini demikian besarnya. Mati lampu sebentar saja begitu banyak sistem yang terganggu. Pelayanan di instansi-instansi bisa berhenti. Biasanya dalam keadaan begini, petugas PLN menjadi sasaran makian dan hujatan. Padahal kerapkali Listrik sengaja dimatikan untuk kepentingan yang sangat darurat. Untuk keselamatan masyarakat, misalnya.
Gangguan listrik sering terjadi karena adanya hubungan arus pendek. Istilah umumnya, korsleting. Jika memperhatikan data-data yang ada, korsleting menjadi penyebab dominan terjadinya kebakaran di beberapa pemukiman. Data dari Kementerian Dalam Negeri, menyebutkan; sepanjang tahun 2021 secara nasional telah terjadi kasus kebakaran sebanyak 17.768 kali. Sebanyak 5.274 kasus atau 45% disebabkan oleh korsleting.
Menariknya, istilah korsleting, bukan hanya digunakan dalam urusan listrik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah ini juga digunakan sebagai kiasan yang berarti keadaan tidak dapat berpikir dengan baik. Untuk lebih mudahnya saya menyebutnya korslet berpikir. Ini penting dikemukakan, mengingat kerusakan yang ditimbulkannya lebih berbahaya dibanding hubungan pendek arus listrik. Terlebih jika yang mengalaminya adalah tokoh-tokoh sentral dalam sebuah komunitas.
Sepanjang sejarah kita mengenal tokoh-tokoh yang terindikasi demikian. Firaun adalah penguasa dengan pemikiran korslet yang begitu parahnya. Demi melanggengkan kekuasaannya dia rela melakukan apa saja. Segala hal yang berpotensi mengancam eksistensinya harus dibasmi. Termasuk bayi yang baru lahir sekalipun, dicurigai dan dibunuh.
Sampai pada tingkat yang paling absurd, mengangkat dirinya sebagai tuhan. Ketika Nabi Musa datang untuk meluruskan kekeliruannya, Firaun murka. Dia pun mengerahkan para pembantunya (tukang sihir) untuk menghadapi Musa. Tukang sihir kalah, sebagian malah beriman kepada ajaran yang dibawa Musa.
Musa menjadi sandungan terbesar bagi kekuasaan Firaun. Harus dilenyapkan. Raja yang merangkap “tuhan” itu mengerahkan tentaranya. Endingnya anda sudah tahu, Firaun beserta tentaranya tenggelam di Laut Merah. Tragis,sosok yang berkuasa nyaris tanpa tanding mati dengan cara hina. Saat ini jasadnya bisa disaksikan di museum Peradaban Mesir, Kairo. Demikian cara Allah menjadikannya pelajaran dan saksi atas kekacauan berpikir.
Tokoh korslet lainnya adalah Adolf Hitler, penguasa Jerman. Sosok ini disebut-sebut sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya Perang Dunia II. Hitler mengusung ideologi Fasis dengan konsep rasialnya. Bahwa ras Arya Jerman adalah ras yang paling unggul dan ditakdirkan menjadi pemimpin atas segala bangsa. Ideologi ini telah menjerumuskan masyarakat dunia ke dalam perang besar yang membawa korban jutaan jiwa dengan kerugian materi yang besar pula.
Demikian halnya dengan Pol Pot. Tokoh penganut Marxist-Leninist ini adalah perdana menteri Kamboja dari tahun 1975-1979. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa paling kelam dalam sejarah negeri itu. Selama menjadi Perdana Menteri, ia dikenal otoriter dan kejam baik kepada rakyat maupun pejabat. Sekitar 25% penduduk Kamboja tewas karena pembantaian, kerja paksa, maupun kelaparan. Kediktatoran dan kekejaman Pol Pot membuatnya masuk dalam jajaran 15 diktator kelas dunia dan 10 orang terkejam sepanjang masa.
Dunia terus dijejali pertunjukan korslet. PBB yang disponsori oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya menjatuhkan sanksi kepada Rusia atas serangannya ke Ukraina 24 Februari 2022. Beberapa organisasi internasional melakukan hal yang sama. Anehnya hal serupa tidak dilakukan atas Israel yang sudah puluhan tahun membantai rakyat Palestina, menjajah dan mencaplok tanah mereka. Negara ini seolah mendapat hak kekebalan hukum atas pelanggaran apapun yang dibuatnya.
Contoh paling dekat. Serangan Israel terhadap jamaah Masjidil Aqsa saat merayakan Isra Mi’raj 28 Februari lalu. Media-media Barat dan juga pemerintahnya sama sekali tidak ambil pusing dengan aksi kekerasan yang melukai 14 orang Palestina tersebut.
Zaman memang penuh ke-korslet-an. Perhatikanlah aksi para pejabat yang berlomba membuat kebijakan dan pernyataan kontroversial, membingungkan. Penyalahgunaan wewenang, korupsi dan kolusi yang tak kunjung redah. Amanah kepemimpinan digunakan sebagai alat pemaksaan kehendak. Hingga pada masalah sangat fundamental, mengubah jalannya sejarah. Entah disadari atau tidak.
Semoga ke-korslet-an berpikir tidak menjangkiti guru-guru kita. Ini benteng terakhir, semoga bukan harapan kosong.


0 komentar:

Posting Komentar