Rabu, 01 April 2020
Mencandai Maut
Kita terlalu asyik menikmati candaan tentang covid-19, ketika virus ini masih jauh di Wuhan sana. Di saat menyeberang ke negeri lain pun kita masih mendengar candaan renyah. Candaannya berkelas karena yang menyampaikannya bukan orang biasa. Varian candaannya juga bermacam-macam, bisa ditelusuri melalui jejak digital. Silahkan jika berkenan.
Di tengah himbauan social distancing guna memutus mata rantai penyebaran virus, Jamaah Tabligh justru menyelenggarakan kegiatan besar. Tanggal 18 Maret 2020, 8000-an orang jamaahnya berkumpul di Desa Pakatto Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan untuk mengikuti tabligh akbar (Ijtima Asia). Pesertanya bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Meskipun pada akhirnya kegiatan ini dibatalkan, tetapi mengumpulkan orang dalam jumlah besar di tengah ancaman virus yang penyebarannya sangat liar ini, patut disayangkan.
Tabligh akbar sangat berpotensi menjadi pusat penyebaran virus. Tidak percaya, lihat apa yang terjadi di Malaysia. Seperti yang kita ketahui, sebelum di Gowa kegiatan serupa telah diselenggarakan di Malaysia. Pesertanya mencapai 16.000 orang, juga diikuti oleh jamaah dari Negara lain. Beberapa hari setelahnya Pemerintah Malaysia mengumumkan warganya yang positif covid-19 melonjak tajam. Dan lebih dari separuhnya adalah peserta ijtima.
Berawal dari tabligh akbar ini, virus corona masuk ke Negara Asia Tenggara yang lain. Di bawa oleh warga negaranya yang menjadi peserta. Tanggal 9 Maret, Brunei mengumumkan kasus Covid-19 pertama di negara tersebut, seorang jamaah yang mengikuti tabligh akbar di Malaysia. Satu minggu kemudian kasus Covid-19 di Brunei melonjak menjadi 50 orang, 45 orang di antaranya adalah peserta tabligh akbar di Malaysia.
Tetapi Jamaah Tabligh bukan satu-satunya komunitas yang nekat. Di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kabupaten Manggarai, mobilisasi massa juga terjadi. Kamis, 19 Maret 2020, sekitar 6.000 umat Katolik menghadiri pentasbihan Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat. Misa besar ini juga dihadiri oleh 37 uskup dari seluruh Indonesia dan pejabat Kongres Wali Gereja Indonesia (KWI). Kegiatan ini sangat disayangkan oleh beberapa pihak. Akan sangat bijak andai ditunda untuk sementara menunggu keadaan kondusif. Sebagaimana permohonan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letjen Doni Monardo melalui surat kepada panitia.
Kalau yang ini benar-benar bercanda. Sebuah video memperlihatkan hasil tes kesehatan deteksi dini virus corona dari RSUD Dr Moewardi Surakarta viral di media sosial pada Sabtu (21/3/2020). Hasil tes kesehatan itu dimiliki seorang perempuan yang berada di salah satu toko ponsel di Pasar Songosaren Solo, Jawa Tengah. Dalam video berdurasi 21 detik itu, hasil tes memperlihatkan perempuan tersebut berstatus orang dalam pengawasan (ODP) Covid-19. Setelah dikonfirmasi kepada pihak-pihak yang terlibat mereka mengaku video itu hanya sebatas candaan.
Bercanda di tengah maut. Tampaknya memang ada hal kontras di negeri ini. Di kala aparat dan petugas medis berjibaku mempertaruhkan nyawa mereka, di sisi lain ada pula kelompok yang santai-santai saja. Padahal sejumlah petugas medis sudah turut menjadi korban, beberapa diantaranya bahkan wafat dalam tugas. Mereka mempertaruhkan nyawa sendiri untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
Kebijakan meliburkan sekolah yang sejatinya dimaksudkan untuk menghindarkan anak-anak dari perkumpulan yang rentan tertular virus, malah dimanfaatkan untuk mengajak anak-anak jalan-jalan ke pantai, ke mall, dan tempat rekreasi lainnya. Warung kopi masih sesak oleh pengunjung. Tempat-tempat hiburan malam juga masih buka. Pada akhirnya aparat kepolisian turun tangan untuk menertibkan masyarakat “pemberani” ini.
Fenomena macam ini memang lazim di negeri kita. Masih ingat peristiwa bom Thamrin? Ketika terjadi ledakan bom dan aparat keamanan terlibat baku tembak dengan pelaku teror, masyarakat malah asyik menonton. Padahal ini peristiwa sungguhan, senjata dan peluruh yang digunakan juga sungguhan. Sepertinya mereka begitu yakin bahwa peluruh yang ditembakkan tidak akan mungkin nyasar ke yang bukan sasaran.
Di jagat medsos candaan tentang virus ini lebih ramai lagi. Seolah netizen tidak punya rasa takut. Atau mungkin mereka memerangi rasa takut dengan candaan. Dari Kreatifitas mereka lahirlah meme atau cerita-cerita lucu. Jujur, karya netizen ini sekilas sangat menghibur, pengusir rasa bosan berkurung di rumah. Saya pun sangat menikmatinya. Tetapi di sisi lain sepertinya kurang etis jika terus menerus bercanda dalam keprihatinan. Candaan yang saya maksud adalah candaan yang tidak meng-edukasi dan cenderung meremehkan wabah ini.
Zaman memang mengubah segalanya. Dulu ketika ada tetangga yang meninggal suara radio pun tidak boleh terdengar. Kita rela berpuasa tidak mendengar radio sampai berhari-hari hingga masa berkabung dianggap selesai. Repotnya, masa berkabung kadang tidak punya batasan waktu. Kita tidak sanggup menunjukkan rasa gembira di saat saudara kita berduka, meski hanya mendengar siaran radio.
Akan sangat bijak, andai energi dan kreatifitas kita dikerahkan untuk membantu pemerintah mengedukasi masyarakat. Memahamkan mereka bagaimana berbahayanya virus ini. Mengajak untuk bersama bersatu padu menghambat penyebarannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Minimal dengan hanya berdiam di rumah. Saya terkesan dengan salah satu meme yang wara-wiri di media sosial, “Jika kamu pernah bermimpi untuk menyelamatkan jutaan orang di dunia, tetapi keahlianmu adalah rebahan. Ini kesempatanmu. Rebahan yuk, di rumah aja”. (Dikutip dari Twitter; @ElviantoBagus). Sederhana tetapi sangat sesuai dengan kondisi saat ini.
Social distancing atau physical distancing yang sekarang diterapkan hanya akan berhasil jika masyarakat patuh dan disiplin menjalaninya. Jika tidak, maka cara ini akan gagal total. Percayalah, wabah yang kita hadapi ini sangat serius, bukan main-main.


0 komentar:
Posting Komentar