Channel YouTube

Rabu, 22 April 2020

Kita Butuh Dakota Lagi

Dakota RI 001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama yang dipunyai Republik Indonesia. Pesawat ini merupakan cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama Indonesia, Indonesian Airways.

Tahun 1948 TNI AU berencana membeli pesawat angkut. Rencana ini disampaikan ke Presiden Soekarno, presiden menyetujui. Untuk itu Presiden Soekarno mengadakan perjalanan keliling Pulau Sumatera dalam rangka penggalangan dana.

Tanggal 16 Juni 1948 Presiden Soekarno tiba di Aceh. Di hadapan rakyat Aceh Presiden berpidato mengenai rencana pembelian pesawat. Beliau berhasil membangkitkan patriotisme. Dengan penuh semangat rakyat Aceh bersedia menyumbang untuk pembelian pesawat tersebut. Dari rakyat Aceh, panitia berhasil mengumpulkan sumbangan senilai 20 kg emas.

Sumbangan inilah yang kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Diberi nama Dakota RI 001 Seulawah. Seulawah adalah nama salah satu gunung di Aceh yang berarti gunung emas. Nama yang sekaligus menjadi tanda penghormatan terhadap semangat patriotisme masyarakat Aceh.

Cerita tentang pembelian pesawat Dakota, hanya satu dari sekian banyak peristiwa heroik yang menghias sejarah perjuangan bangsa. Sejarah tentang semangat gotong royong, yang ditunjukkan oleh orang-orang terdahulu. Kegotongroyongan inilah yang menjadi kekuatan bangsa kita dalam merebut dan mempertahkan kemerdekaan.

Di masa pandemik covid-19 ini, sepertinya semangat ini perlu untuk digelorakan kembali. Saya yakin ini akan menjadi kekuatan yang besar dalam menyelesaikan perkara-perkara yang ada. Kurangnya APD untuk tenaga medis serta dampak sosial ekonomi yang timbul akibat penerapan pembatasan sosial.

Akan tetapi apakah semangat gotong royong ini masih ada? Terus terang saya ragu. Mengingat bangsa kita terlanjur mengalami keterpecahan yang kronis. Imbas dari perpolitikan yang tidak sehat beberapa tahun terakhir.

Namun berita menggembirakan itu datang. Seorang bocah berusia 9 tahun bernama Akram Ataya asal Pangkep, Sulawesi Selatan. Bocah ini bercita-cita memiliki sebuah sepeda. Dia pun rajin menabung untuk memenuhi keinginannya itu. Tetapi pandemik covid-19 memaksa dia mengurungkan keinginannya. Celengannya dibongkar dan uang tabungan sebesar Rp 570 ribu disumbangkan ke Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Pangkep untuk pembelian APD (suara.com, 12/04/2020).

Selanjutnya, Nu Online (10/04/2020) juga memberitakan aksi solidaritas anak bernama Muhammad Ridwan Asfi, Murid kelas 4 sebuah Sekolah Dasar di Rembang, Jawa Tengah. Asfi menyerahkan sumbangan untuk membantu penangan covid-19. Sumbangan dari hasil tabungannya sebesar Rp 100 ribu itu diserahkan ke Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Masih dari aksi bocah. Sinar Harapan.co memberitakan seorang murid Sekolah Dasar di Bandung bernama Muhammad Hafidz turut menunjukkan rasa simpatinya. Seperti dua bocah yang disebutkan sebelumnya, anak ini juga rela menyumbangkan hasil tabungannya untuk membantu penanganan covid-19.

Aksi anak-anak ini membuat haru. Masih kecil tetapi memiliki empati yang besar. Mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan orang banyak. Selamat untuk kedua orang tuanya, anak yang membanggakan. Semoga aksi anak-anak ini semakin menggugah banyak orang untuk turut ambil bagian dalam perang melawan covid-19.

Ternyata kita masih punya harapan. Jiwa kegotongroyongan belum padam, semangat bersatu juga belum luntur. Kesadaran untuk bersama menghadapi wabah ini bermunculan, bahkan sejak awal wabah covid-19 terdeteksi.
Penggalangan dana terus dilakukan. Secara pribadi, melalui lembaga sosial, kalangan kampus, dan kelompok-kelompok masyarakat yang lain . Harapannya, upaya ini menjadi padu, bergerak bersama dengan tujuan yang sama, menyelamatkan bangsa dari keterpurukan.

Kita tentu tidak ingin krisis ekonomi tahun 1998 terulang lagi. Kita telah merasakan betapa sulitnya masa-masa itu, ekonomi melambat, kerawanan sosial menajam hingga mengarah ke disintegrasi bangsa. Maka Pandemik ini tidak boleh membuat kita lemah. Saatnya semua pihak bersatu. Satu kata, satu gerak. Bukan waktunya mempertontonkan keegoan dan arogansi kelompok.

Ini menyangkut nyawa manusia. Menyelamatkannya harus menjadi prioritas dibanding yang lainnya. Presiden Ghana, Nana Akufo Addo usai mengumumkan lockdown parsial di Republik Ghana mengatakan, “Kami tahu cara menghidupkan kembali ekonomi. Yang kami tidak tahu adalah cara menghidupkan kembali manusia.” Pernyataan ini sempat menjadi trending topik di Twitter di tanah air beberapa waktu lalu. Sebuah ungkapan yang sangat cerdas dan layak dijadikan referensi dalam menentukan kebijakan.

Kita tidak punya waktu untuk tunjuk sana, tunjuk sini. Menyalahkan sana, menyalahkan sini. Kita berpacu dengan waktu, jika terlambat dampaknya akan mengerikan. Kematian tiap hari bertambah, yang positif pun demikian. Maka sekecil apapun bantuan yang diberikan akan sangat berharga.

Kita diwarisi keteladanan oleh para tokoh bangsa, para pejuang kemerdekaan. Betapa pun mereka berbeda pendapat tetapi mereka bisa melebur keegoan mereka, bersatu menghadapi musuh yang sama, kaum imprealis.

Undang-undang Dasar 1945 serta rumusan Pancasila yang ada di dalamnya adalah hasil kompromi dari beragam pandangan yang berbeda. Proklamasi 17 Agustus 1945 juga dihasilkan dari proses yang sama. Setelah kemerdekaan, semangat kebersamaan terus menerus diuji. Melalui ambisi Belanda yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Demikian pula, gangguan dari bangsa sendiri yang ingin merebut kekuasaan.

Indonesia hari ini adalah, Indonesia yang sudah melalui banyak ujian di masa lalu. Dan bangsa besar ini bisa melewatinya. Dengan semangat bersatu yang ditanamkan Allah SWT ke dalam jiwa-jiwa para pendiri bangsa.

Maka sangat penting untuk mengeratkan kembali kebersamaan ini. Yang dengan itu rakyat Aceh menghadiahi Republik Indonesia sebuah Dakota. Sepertinya kita butuh Dakota lagi. Bukan pesawatnya, tetapi semangatnya yang akan memenangkan negeri ini dalam peperangan melawan corona.

Gowa, 21 April 2020

0 komentar:

Posting Komentar