![]() |
| Ilustrasi ( Hidayatullah.com) |
Nabi Luth A.S. diutus
Allah SWT di Kota Sadum, penduduknya kemudian dikenal dengan sebutan Kaum Sodom.
Kaum Sodom sangat buruk perilakunya, kafir dan senang berbuat dosa. Mereka memelopori
perbuatan dosa yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari keturunan Nabi
Adam sebelumnya, yaitu homoseks.
Dakwah Nabi Luth A.S.
tidak digubris. Malah mereka hendak mengusir Nabi Luth dari negerinya. Allah
SWT menurunkan azab untuk menghukum kaum Sodom. Negeri mereka dibalikkan oleh
Allah dan dihujani dengan batu-batu dari tanah yang terbakar (TQS. 11 : 82).
Ibnu Katsir
menceritakan dalam Kitabnya, Kisah Para Nabi. Penduduk di negeri itu semuanya
diangkat ke atas termasuk hewan-hewan yang ada di dalamnya, rumah-rumah,
perkebunan, beserta apapun yang ada di negeri tersebut. Semua diangkat hingga
mencapai awan, sampai-sampai para penghuni langit dapat mendengar kokok ayam
dan lolongan anjing dari dekat. Setelah terangkat ke atas, kemudian negeri itu
diputar hingga bagian atas menjadi di bawah dan bagian di bawah menjadi di
atas.
Demikian azab Allah
atas negeri kaum Sodom. Negeri yang dibalikkan.
Selama empat pekan
berkurung di rumah. Rasa-rasanya covid-19 ini telah menciptakan kondisi yang
mirip dengan apa yang menimpa kaum Sodom. Kalau kita fokus pada kata “dibalik”.
Bedanya, kaum Sodom negerinya yang dibalik (secara fisik). Sedangkan kondisi
kita saat ini interaksi sosiallah yang dibalik.
Agama dengan jelas
mengajarkan untuk memperkokoh silaturahmi, misalnya dengan saling mengunjungi. Kitab-kitab
hadist menjelaskan, siapa yang ingin diperlancar rezekinya dan dipanjangkan
umurnya maka perbanyaklah silaturahmi. Begitu pentingnya hingga menjadi jaminan
kelancaran rezeki dan dipanjangkannya usia.
Namun selama pandemi
covid-19, silahturahmi dengan saling mengunjungi dibatasi. Orang sangat
selektif menerima tamu. Anak saya malah menempelkan kertas di pintu rumah saya
yang bertuliskan, “selain keluarga Bapak Abdulkarim, dilarang masuk”, hehe.
Untung bukan spanduk yang dipasang.
Jika sayang sama
orang tua, sering-seringlah berkunjung, memeluk dan mencium tangannya. Itu
dulu!
Sekarang, jika Anda
mencintai orang tua, para “ahli corona” menyarankan untuk tidak mendekatinya, apalagi memeluk dan
mencium tangannya. Orang tua terutama yang sudah berumur 60 tahun ke atas
sangat rentan terjangkit covid-19. Tetaplah di rumah mendoakannya dari jauh,
atau berbicaralah lewat telefon. Syukur-syukur kalau bisa video call.
Entah siapa yang
menulis dan menyebarkannya di grup-grup WhatsApp :
….dulu hewan yang dikandangkan, sekarang
orang yang di rumahkan
dulu musuh besar yang ditakuti sekarang musuh
kecil yang ditakutkan
dulu yang di garis depan peperangan tentara
belakangnya tenaga medis sekarang team medis yang di depan membelakangi tentara
dulu bersatu kita teguh bercerai kita jatuh
sekarang bersatu kita runtuh bercerai kita utuh. Sudah sekarang di rumah saja,
tidak boleh keluar seperti orang yang dipenjara, eh malah yang dipenjara
disuruh keluar….
Ini pesan menyentuh
yang disampaikan dengan bahasa santai namun sangat tepat untuk menggambarkan
keadaan sekarang. Dan seperti yang katakan oleh penulisnya, ini akan menjadi
pelajaran yang berharga untuk diingatkan kepada anak cucu kita kelak. Semoga
kita diberi kesempatan untuk itu.
Berjamaah di masjid
yang biasanya shafnya dirapatkan, kini harus direnggangkan, minimal dua meter.
Bahkan kemudian shalat berjamaah pun tidak boleh dilakukan terutama di
daerah-daerah yang masuk zona merah. Padahal shalat berjamaah adalah perkara
yang sangat dipentingkan dalam Islam. Pantas kalau kemudian mengundang polemik
di masyarakat.
Merenggangkan jarak. Bisa
saja ini suatu tanda yang diperlihatkan Allah untuk mengoreksi semakin
renggangnya hubungan sosial kita selama ini. Kepedulian sosial semakin menipis.
Hubungan antar manusia semakin individualis, sibuk dengan dirinya sendiri.
Pergerseran ini
terjadi seiring dengan perkembangan teknologi, utamanya di bidang komunikasi.
Smartphone telah mempermudah hidup manusia. Hidup bisa diatur hanya dalam
genggaman, kendalinya ada di ujung jari.
Hubungan antar
manusia menjadi renggang, interaksi berpindah dari dunia nyata ke dunia maya. Kalau
pun bertemu fisik, masing-masing sibuk dengan smartphonenya. Pertemuan yang
seharusnya diwarnai obralan akrab, menyenangkan tak jarang berubah menjadi
majelis nunduk. Fisik berdekatan tetapi hati berjauhan. Kalaupun mata sesekali saling
tatap, pikirannya melanglang entah di mana.
Fakta ini menggerus
kepekaan sosial. Mengikis kepedulian terhadap orang-orang sekitar. Terhadap
mereka yang memerlukan uluran tangan. Kaum miskin dan anak-anak yatim yang
tidak berdaya. Hidup hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompok. Tidak
peduli meski harus mengorbankan kepentingan orang lain. EGP, emangnya gue pikirin.
Tak hanya hubungan
sosial yang bermasalah. Hubungan dengan alam pun tidak harmonis lagi.
Pengrusakan alam di mana-mana. Penggundulan hutan, pencemaran lingkungan; air,
tanah,dan udara adalah berita yang tiada putus-putusnya diwartakan. Manusia menjadi
monster bagi alam tempat tinggalnya sendiri. Peringatan-peringatan Allah melalui
bencana tidak dipedulikan.
Manusia banyak yang
keliru dalam menentukan orientasi hidup. Mengejar dunia yang akan
ditinggalkannya dan lupa akhirat, negeri abadi yang akan dituju. Tidak belajar
dari kisah kehancuran umat-umat terdahulu. Kisah kehancuran Fir’aun yang
sombong dengan kekuasaannya, Qorun dengan harta kekayaannya, Haman dengan
kepintarannya. Kehancuran umat Nabi Nuh A.S., demikian juga dengan kaum Sodom
yang merasa bangga dengan dosa-dosanya. Dan kehancuran umat ahli maksiat
lainnya.
Kita hidup di zaman
di mana perilaku jahil umat terdahulu diulang dalam bungkus kemodernan.
Teknologi menjadi berhala baru yang disembah melebihi Tuhan. Syair-syair penuh
syahwat digemari mengalahkan ayat-ayat suci. Para artis diidolakan dan dibela,
ulama dan penganjur kebaikan dicaci, dibenci. Wanita-wanita yang berpakaian
tetapi telanjang disanjung dan dihormati, wanita dengan pakaian tertutup dihina
dan dilecehkan kehormatannya. Penganjur dosa diakrabi, penganjur kebaikan
dijauhi.
Hukum Allah dicampakkan,
hukum buatan manusia diagungkan. Manusia terang-terangan meng-kudeta Tuhan. Sungguh dunia sudah terbolak-balik.
Berdiam di rumah
untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Waktu untuk me-reset dan
menormalkan kembali tata hidup. Hidup sesuai dengan tuntunan Allah. Tanpa
melakukan ini berdiam diri selama berhari-hari di rumah akan sia-sia adanya.
Harus ada gerakan
taubat global, tak cukup skala nasional. Masing-masing orang mengakui kesalahannya,
menyungkurkan diri di hadapan Allah.
Menyesali dosa. Mohon ampun dari segala kesombongan yang menghias diri
selama ini.
Saatnya kita
lebih mendekat kepada Allah. Bertobat,
berdoa, menangis di hadapan-Nya. Mintalah agar Allah segera mengangkat wabah ini.
Pasrahkan diri, mengemis mohon perlindungan. Lakukan dengan dorongan iman dan
kesungguhan hati, penuh keyakinan. Yakin dengan pertolongan Allah.
Ini bukan wabah
biasa. Maka usaha pun tidak boleh biasa-biasa saja. Beri sokongan terhadap
ikhtiar yang telah dilakukan oleh para pemimpin kita, aparat dan tim medis, dengan
apa yang kita bisa. Bahkan meski hanya dengan doa dan pengharapan.
“Sesungguhnya sesudah
kesulitan itu, ada kemudahan” (TQS. 94 : 6)
“Barangsiapa yang
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (TQS 56
: 2)
“Cukuplah Allah
(menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung” (TQS. 3 : 173)
Gowa, 11 April 2020


0 komentar:
Posting Komentar