Channel YouTube

Sabtu, 11 April 2020

Dunia yang Dibalik

Ilustrasi ( Hidayatullah.com)

Nabi Luth A.S. diutus Allah SWT di Kota Sadum, penduduknya kemudian dikenal dengan sebutan Kaum Sodom. Kaum Sodom sangat buruk perilakunya, kafir dan senang berbuat dosa. Mereka memelopori perbuatan dosa yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari keturunan Nabi Adam sebelumnya, yaitu homoseks.

Dakwah Nabi Luth A.S. tidak digubris. Malah mereka hendak mengusir Nabi Luth dari negerinya. Allah SWT menurunkan azab untuk menghukum kaum Sodom. Negeri mereka dibalikkan oleh Allah dan dihujani dengan batu-batu dari tanah yang terbakar (TQS. 11 : 82).

Ibnu Katsir menceritakan dalam Kitabnya, Kisah Para Nabi. Penduduk di negeri itu semuanya diangkat ke atas termasuk hewan-hewan yang ada di dalamnya, rumah-rumah, perkebunan, beserta apapun yang ada di negeri tersebut. Semua diangkat hingga mencapai awan, sampai-sampai para penghuni langit dapat mendengar kokok ayam dan lolongan anjing dari dekat. Setelah terangkat ke atas, kemudian negeri itu diputar hingga bagian atas menjadi di bawah dan bagian di bawah menjadi di atas.

Demikian azab Allah atas negeri kaum Sodom. Negeri yang dibalikkan.

Selama empat pekan berkurung di rumah. Rasa-rasanya covid-19 ini telah menciptakan kondisi yang mirip dengan apa yang menimpa kaum Sodom. Kalau kita fokus pada kata “dibalik”. Bedanya, kaum Sodom negerinya yang dibalik (secara fisik). Sedangkan kondisi kita saat ini interaksi sosiallah yang dibalik.

Agama dengan jelas mengajarkan untuk memperkokoh silaturahmi, misalnya dengan saling mengunjungi. Kitab-kitab hadist menjelaskan, siapa yang ingin diperlancar rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka perbanyaklah silaturahmi. Begitu pentingnya hingga menjadi jaminan kelancaran rezeki dan dipanjangkannya usia.

Namun selama pandemi covid-19, silahturahmi dengan saling mengunjungi dibatasi. Orang sangat selektif menerima tamu. Anak saya malah menempelkan kertas di pintu rumah saya yang bertuliskan, “selain keluarga Bapak Abdulkarim, dilarang masuk”, hehe. Untung bukan spanduk yang dipasang.

Jika sayang sama orang tua, sering-seringlah berkunjung, memeluk dan mencium tangannya. Itu dulu!
Sekarang, jika Anda mencintai orang tua, para “ahli corona” menyarankan untuk  tidak mendekatinya, apalagi memeluk dan mencium tangannya. Orang tua terutama yang sudah berumur 60 tahun ke atas sangat rentan terjangkit covid-19. Tetaplah di rumah mendoakannya dari jauh, atau berbicaralah lewat telefon. Syukur-syukur kalau bisa video call.

Entah siapa yang menulis dan menyebarkannya di grup-grup WhatsApp :
….dulu hewan yang dikandangkan, sekarang orang yang di rumahkan
dulu musuh besar yang ditakuti sekarang musuh kecil yang ditakutkan
dulu yang di garis depan peperangan tentara belakangnya tenaga medis sekarang team medis yang di depan membelakangi tentara
dulu bersatu kita teguh bercerai kita jatuh sekarang bersatu kita runtuh bercerai kita utuh. Sudah sekarang di rumah saja, tidak boleh keluar seperti orang yang dipenjara, eh malah yang dipenjara disuruh keluar….

Ini pesan menyentuh yang disampaikan dengan bahasa santai namun sangat tepat untuk menggambarkan keadaan sekarang. Dan seperti yang katakan oleh penulisnya, ini akan menjadi pelajaran yang berharga untuk diingatkan kepada anak cucu kita kelak. Semoga kita diberi kesempatan untuk itu.

Berjamaah di masjid yang biasanya shafnya dirapatkan, kini harus direnggangkan, minimal dua meter. Bahkan kemudian shalat berjamaah pun tidak boleh dilakukan terutama di daerah-daerah yang masuk zona merah. Padahal shalat berjamaah adalah perkara yang sangat dipentingkan dalam Islam. Pantas kalau kemudian mengundang polemik di masyarakat.

Merenggangkan jarak. Bisa saja ini suatu tanda yang diperlihatkan Allah untuk mengoreksi semakin renggangnya hubungan sosial kita selama ini. Kepedulian sosial semakin menipis. Hubungan antar manusia semakin individualis, sibuk dengan dirinya sendiri.

Pergerseran ini terjadi seiring dengan perkembangan teknologi, utamanya di bidang komunikasi. Smartphone telah mempermudah hidup manusia. Hidup bisa diatur hanya dalam genggaman, kendalinya ada di ujung jari.

Hubungan antar manusia menjadi renggang, interaksi berpindah dari dunia nyata ke dunia maya. Kalau pun bertemu fisik, masing-masing sibuk dengan smartphonenya. Pertemuan yang seharusnya diwarnai obralan akrab, menyenangkan tak jarang berubah menjadi majelis nunduk. Fisik berdekatan tetapi hati berjauhan. Kalaupun mata sesekali saling tatap, pikirannya melanglang entah di mana.

Fakta ini menggerus kepekaan sosial. Mengikis kepedulian terhadap orang-orang sekitar. Terhadap mereka yang memerlukan uluran tangan. Kaum miskin dan anak-anak yatim yang tidak berdaya. Hidup hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompok. Tidak peduli meski harus mengorbankan kepentingan orang lain. EGP, emangnya gue pikirin.

Tak hanya hubungan sosial yang bermasalah. Hubungan dengan alam pun tidak harmonis lagi. Pengrusakan alam di mana-mana. Penggundulan hutan, pencemaran lingkungan; air, tanah,dan udara adalah berita yang tiada putus-putusnya diwartakan. Manusia menjadi monster bagi alam tempat tinggalnya sendiri. Peringatan-peringatan Allah melalui bencana tidak dipedulikan. 

Manusia banyak yang keliru dalam menentukan orientasi hidup. Mengejar dunia yang akan ditinggalkannya dan lupa akhirat, negeri abadi yang akan dituju. Tidak belajar dari kisah kehancuran umat-umat terdahulu. Kisah kehancuran Fir’aun yang sombong dengan kekuasaannya, Qorun dengan harta kekayaannya, Haman dengan kepintarannya. Kehancuran umat Nabi Nuh A.S., demikian juga dengan kaum Sodom yang merasa bangga dengan dosa-dosanya. Dan kehancuran umat ahli maksiat lainnya.

Kita hidup di zaman di mana perilaku jahil umat terdahulu diulang dalam bungkus kemodernan. Teknologi menjadi berhala baru yang disembah melebihi Tuhan. Syair-syair penuh syahwat digemari mengalahkan ayat-ayat suci. Para artis diidolakan dan dibela, ulama dan penganjur kebaikan dicaci, dibenci. Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang disanjung dan dihormati, wanita dengan pakaian tertutup dihina dan dilecehkan kehormatannya. Penganjur dosa diakrabi, penganjur kebaikan dijauhi.

Hukum Allah dicampakkan, hukum buatan manusia diagungkan. Manusia terang-terangan meng-kudeta Tuhan.  Sungguh dunia sudah terbolak-balik.

Berdiam di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Waktu untuk me-reset dan menormalkan kembali tata hidup. Hidup sesuai dengan tuntunan Allah. Tanpa melakukan ini berdiam diri selama berhari-hari di rumah akan sia-sia adanya.

Harus ada gerakan taubat global, tak cukup skala nasional. Masing-masing orang mengakui kesalahannya, menyungkurkan diri di hadapan Allah.  Menyesali dosa. Mohon ampun dari segala kesombongan yang menghias diri selama ini. 

Saatnya kita lebih  mendekat kepada Allah. Bertobat, berdoa, menangis di hadapan-Nya. Mintalah  agar Allah segera mengangkat wabah ini. Pasrahkan diri, mengemis mohon perlindungan. Lakukan dengan dorongan iman dan kesungguhan hati, penuh keyakinan. Yakin dengan pertolongan Allah.

Ini bukan wabah biasa. Maka usaha pun tidak boleh biasa-biasa saja. Beri sokongan terhadap ikhtiar yang telah dilakukan oleh para pemimpin kita, aparat dan tim medis, dengan apa yang kita bisa. Bahkan meski hanya dengan doa dan pengharapan.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu, ada kemudahan” (TQS. 94 : 6)
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (TQS 56 : 2)
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung” (TQS. 3 : 173)


Gowa, 11 April 2020

0 komentar:

Posting Komentar