Ada yang belum pernah melihat monumen? Ahh!! Keterlaluan kalau ada.
Bangunan ini begitu familiar di negeri kita.
Di setiap kecamatan dibangun taman makam pahlawan yang sekaligus
merupakan monumen untuk mengingatkan tentang arti sebuah pengorbanan. Bahwa
jasad yang terkubur di dalam tanah, di tempat itu, adalah orang-orang yang rela
mengorbankan jiwa raganya demi membela tanah air yang dicintainya. Pusat-pusat
kota tidak lengkap rasanya jika tidak dihiasi dengan monumen. Sudah seperti
aksesoris wajib. Malahan beberapa di antaranya menjadi ikon, penanda, ciri khas
sebuah kota.
Di Kota Makassar, kita mengenal ada Monumen Mandala yang berdiri gagah
di tengah kota. Letaknya strategis. Saking strategisnya, menjadi tempat favorit
bagi para demonstran untuk meluapkan aspirasinya. Monumen Mandala, pengingat
sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam usaha merebut kembali Irian Barat.
Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) Belanda bersedia meninggalkan Indonesia.
Kecuali di Irian Barat, Belanda masih
bertahan. Masalahnya akan dibicarakan satu tahun kemudian, demikian keputusan
KMB berkenaan dengan masalah Irian Barat. Akan tetapi beberapa kali perundingan
dilakukan tetap saja menemui jalan buntu. Belanda sepertinya sengaja
mengulur-ulur waktu agar bisa tetap bertahan di pulau paling timur Indonesia
itu.
Pemerintah Indonesia terpaksa menempuh jalan konfrontasi, siap
berperang. Tanggal 2 Januari 1962 Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala
untuk operasi pembebasan Irian Barat. Markas Besar Komando Mandala dipusatkan
di Makassar. Demi melihat keseriusan Indonesia dalam melakukan operasi militer,
Perserikata Bangsa-Bangsa (PBB) turun
tangan. PBB membentuk UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority). UNTEA berhasil memediasi Indonesia dengan Belanda.
Irian Barat kembali ke pangguan RI secara damai.
![]() |
| Monumen Korban 40.000 Jiwa |
Di bagian lain kota Makassar, berdiri monumen yang mengingatkan kita
tentang kisah pilu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Monumen
Korban 40.000 jiwa. Terletak di jalan Korban 40.000 Jiwa, Tallo Makassar. Dalam
lokasi monumen berdiri beberapa bangunan seperti pendopo, monumen utama yang
bagian dindingnya dihiasi dengan relief, dan pada salah satu sisi bangunan berdiri sebuah patung.
Patung dengan tinggi empat meter tersebut menggambarkan seorang korban selamat
dari pembantaian dengan kaki yang buntung serta tangannya menggunakan
penyangga.
Menatap monumen ini tergambar kebiadaban pasukan Belanda di Sulawesi
Selatan. Di bawah pimpinan Kapten Reymond Westerling pasukan Belanda mengadakan
pembunuhan dengan keji di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan dalam rangka
operasi militer yang dinamakan Counter
Insurgency atau penumpasan pemberontakan. Pemberontak yang mereka maksud
adalah para pejuang yang menolak kehadiran Belanda di Sulawesi Selatan.
Pembunuhan demi pembunuhan dilakukan sejak Desember 1946 hingga Februari
1947. Diperkirakan tidak kurang dari 40.000 jiwa rakyat Sulawesi Selatan yang
menjadi korban. Monumen Korban 40.000 jiwa melambangkan penderitaan, kesetiaan
dan pengorbanan rakyat Sulawesi Selatan untuk tetap tegaknya Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
![]() |
| Monumen Emmy Saelan |
Masih di Kota Makassar. Kita menjumpai Monumen Emmy Saelan. Terletak di
jalan Emmy Saelan, Rappocini, Makassar.
Emmy Saelan yang diabadikan melalui monumen ini adalah adalah salah
seorang pejuang wanita Sulawesi Selatan. Lahir pada tanggal 15 Oktober 1924 dan
meninggal tanggal 23 Januari 1947 dalam usia 22 tahun. Emmy Saelan adalah
anggota Laskar Harimau Indonesia yang berperan sebagai pemimpin laskar
perempuan sekaligus bertugas di Palang Merah.
Laskar Harimau Indonesia adalah organisasi pejuang Sulawesi Selatan yang
gigih menentang Belanda. Emmy Saelan gugur di kampung Kassi-kassi, Makassar
tanggal 23 Januari 1947 dalam bentrokan Laskar Harimau Indonesia dengan
Belanda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu (dari 40 Pasukan Harimau
Indonesia hanya satu orang yang membawa senjata api, yang lainnya senjata
tradisonal), para pejuang ini terdesak. Pasukan terpaksa ditarik mundur, tetapi
terlambat, teman-teman Emmy berguguran dan dia terkepung oleh tentara Belanda.
Emmy tidak rela ditanggap, dia pun meledakkan granat di dekatnya. Emmy Saelan
akhirnya gugur bersama dengan tentara Belanda yang mengepungnya.
Emmy Saelan adalah lambang wanita pemberani yang jasa-jasanya perlu
dikenang. Monumen yang didirikan di tempat Beliau gugur sejatinya menjadi
perantara untuk mengenang perjuanganya. Jasadnya boleh saja terkubur tetapi
semangatnya harus tetap dipelihara sampai kapan pun.
Apa pentingnya pembahasan ini? Saya ingin mengatakan bahwa monumen,
semakin kehilangan ruhnya. Bangunannya masih kokoh berdiri, dibanggakan sebagai
ikon kota, di datangi sebagai tempat wisata, pengunjung dengan penuh kebanggaan
berselfi ria di tempat itu, dana digelontorkan untuk memelihara dan menjaganya.
Tetapi tak lagi punya ruh.
Monumen punya ruh? Ya. Ruhnya adalah nilai-nilai yang dikandungnya serta
sejarah yang melatarinya. Dengan memahami nilai dan latar sejarahnya kita bisa
mengambil pelajaran dan meneguk sebanyak-banyaknya hikmah. Monumen bukan
sekedar bangunan kaku dan bisu, tetapi senantiasa bercerita. Bercerita lewat
makna-makna yang tersirat.
Dalam hubungannya dengan monumen yang telah kita bicarakan sebelumnya.
Sejatinya menjadi inspirasi, yang mengabarkan kepada kita hari ini dan kepada
generasi mendatang, betapa besar cinta mereka kepada negerinya. Mereka rela
mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawanya untuk menempatkan bangsa ini di
posisi terhormat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Lalu bagaimana dengan kita hari ini? Apa yang telah kita perbuat untuk
negeri ini? Malu rasanya, kita malah menjadi bagian dari masalah. Penghambat
kemajuan dan merusak tatanan kehidupan berbangsa. Menggerogoti bangsa ini
dengan perilaku tak terhormat, merendahkannya dengan menaruh di bawah kaki-kaki
imprealisme baru, para pemodal asing. Yang menjajah melalui ekonomi, budaya dan
mendikte arah politik kita. Menghambur-hamburkan uang negara untuk kepentingan
pribadi dan golongan.
Baca sejarah! Kita adalah pewaris manusia-manusia hebat. Manusia
pemberani, pahlawan! Dalam tubuh kita mengalir deras darah para pahlawan, bukan
pecundang. Bangkit dan teruskan perjuangan mereka. Raih cita-cita yang masih
menggantung di angan-angan. Itulah ruh dari setiap monumen. Dan untuk itulah
monumen didirikan.




0 komentar:
Posting Komentar