Channel YouTube

Selasa, 04 Februari 2020

Monumen



 
Monumen Mandala
Ada yang belum pernah melihat monumen? Ahh!! Keterlaluan kalau ada.  Bangunan ini begitu familiar di negeri kita.

Di setiap kecamatan dibangun taman makam pahlawan yang sekaligus merupakan monumen untuk mengingatkan tentang arti sebuah pengorbanan. Bahwa jasad yang terkubur di dalam tanah, di tempat itu, adalah orang-orang yang rela mengorbankan jiwa raganya demi membela tanah air yang dicintainya. Pusat-pusat kota tidak lengkap rasanya jika tidak dihiasi dengan monumen. Sudah seperti aksesoris wajib. Malahan beberapa di antaranya menjadi ikon, penanda, ciri khas sebuah kota.

Di Kota Makassar, kita mengenal ada Monumen Mandala yang berdiri gagah di tengah kota. Letaknya strategis. Saking strategisnya, menjadi tempat favorit bagi para demonstran untuk meluapkan aspirasinya. Monumen Mandala, pengingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam usaha merebut kembali Irian Barat. Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) Belanda bersedia meninggalkan Indonesia. Kecuali di Irian Barat,  Belanda masih bertahan. Masalahnya akan dibicarakan satu tahun kemudian, demikian keputusan KMB berkenaan dengan masalah Irian Barat. Akan tetapi beberapa kali perundingan dilakukan tetap saja menemui jalan buntu. Belanda sepertinya sengaja mengulur-ulur waktu agar bisa tetap bertahan di pulau paling timur Indonesia itu.

Pemerintah Indonesia terpaksa menempuh jalan konfrontasi, siap berperang. Tanggal 2 Januari 1962 Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala untuk operasi pembebasan Irian Barat. Markas Besar Komando Mandala dipusatkan di Makassar. Demi melihat keseriusan Indonesia dalam melakukan operasi militer, Perserikata Bangsa-Bangsa (PBB)  turun tangan. PBB membentuk UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority). UNTEA berhasil memediasi Indonesia dengan Belanda. Irian Barat kembali ke pangguan RI secara damai.
Monumen Korban 40.000 Jiwa

Di bagian lain kota Makassar, berdiri monumen yang mengingatkan kita tentang kisah pilu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Monumen Korban 40.000 jiwa. Terletak di jalan Korban 40.000 Jiwa, Tallo Makassar. Dalam lokasi monumen berdiri beberapa bangunan seperti pendopo, monumen utama yang bagian dindingnya dihiasi dengan relief, dan  pada salah satu sisi bangunan berdiri sebuah patung. Patung dengan tinggi empat meter tersebut menggambarkan seorang korban selamat dari pembantaian dengan kaki yang buntung serta tangannya menggunakan penyangga.

Menatap monumen ini tergambar kebiadaban pasukan Belanda di Sulawesi Selatan. Di bawah pimpinan Kapten Reymond Westerling pasukan Belanda mengadakan pembunuhan dengan keji di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan dalam rangka operasi militer yang dinamakan Counter Insurgency atau penumpasan pemberontakan. Pemberontak yang mereka maksud adalah para pejuang yang menolak kehadiran Belanda di Sulawesi Selatan.

Pembunuhan demi pembunuhan dilakukan sejak Desember 1946 hingga Februari 1947. Diperkirakan tidak kurang dari 40.000 jiwa rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban. Monumen Korban 40.000 jiwa melambangkan penderitaan, kesetiaan dan pengorbanan rakyat Sulawesi Selatan untuk tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Monumen Emmy Saelan
Masih di Kota Makassar. Kita menjumpai Monumen Emmy Saelan. Terletak di jalan Emmy Saelan, Rappocini, Makassar.  Emmy Saelan yang diabadikan melalui monumen ini adalah adalah salah seorang pejuang wanita Sulawesi Selatan. Lahir pada tanggal 15 Oktober 1924 dan meninggal tanggal 23 Januari 1947 dalam usia 22 tahun. Emmy Saelan adalah anggota Laskar Harimau Indonesia yang berperan sebagai pemimpin laskar perempuan sekaligus bertugas di Palang Merah.

Laskar Harimau Indonesia adalah organisasi pejuang Sulawesi Selatan yang gigih menentang Belanda. Emmy Saelan gugur di kampung Kassi-kassi, Makassar tanggal 23 Januari 1947 dalam bentrokan Laskar Harimau Indonesia dengan Belanda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu (dari 40 Pasukan Harimau Indonesia hanya satu orang yang membawa senjata api, yang lainnya senjata tradisonal), para pejuang ini terdesak. Pasukan terpaksa ditarik mundur, tetapi terlambat, teman-teman Emmy berguguran dan dia terkepung oleh tentara Belanda. Emmy tidak rela ditanggap, dia pun meledakkan granat di dekatnya. Emmy Saelan akhirnya gugur bersama dengan tentara Belanda yang mengepungnya.

Emmy Saelan adalah lambang wanita pemberani yang jasa-jasanya perlu dikenang. Monumen yang didirikan di tempat Beliau gugur sejatinya menjadi perantara untuk mengenang perjuanganya. Jasadnya boleh saja terkubur tetapi semangatnya harus tetap dipelihara sampai kapan pun.

Apa pentingnya pembahasan ini? Saya ingin mengatakan bahwa monumen, semakin kehilangan ruhnya. Bangunannya masih kokoh berdiri, dibanggakan sebagai ikon kota, di datangi sebagai tempat wisata, pengunjung dengan penuh kebanggaan berselfi ria di tempat itu, dana digelontorkan untuk memelihara dan menjaganya. Tetapi tak lagi punya ruh.

Monumen punya ruh? Ya. Ruhnya adalah nilai-nilai yang dikandungnya serta sejarah yang melatarinya. Dengan memahami nilai dan latar sejarahnya kita bisa mengambil pelajaran dan meneguk sebanyak-banyaknya hikmah. Monumen bukan sekedar bangunan kaku dan bisu, tetapi senantiasa bercerita. Bercerita lewat makna-makna yang tersirat.

Dalam hubungannya dengan monumen yang telah kita bicarakan sebelumnya. Sejatinya menjadi inspirasi, yang mengabarkan kepada kita hari ini dan kepada generasi mendatang, betapa besar cinta mereka kepada negerinya. Mereka rela mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawanya untuk menempatkan bangsa ini di posisi terhormat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Lalu bagaimana dengan kita hari ini? Apa yang telah kita perbuat untuk negeri ini? Malu rasanya, kita malah menjadi bagian dari masalah. Penghambat kemajuan dan merusak tatanan kehidupan berbangsa. Menggerogoti bangsa ini dengan perilaku tak terhormat, merendahkannya dengan menaruh di bawah kaki-kaki imprealisme baru, para pemodal asing. Yang menjajah melalui ekonomi, budaya dan mendikte arah politik kita. Menghambur-hamburkan uang negara untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Baca sejarah! Kita adalah pewaris manusia-manusia hebat. Manusia pemberani, pahlawan! Dalam tubuh kita mengalir deras darah para pahlawan, bukan pecundang. Bangkit dan teruskan perjuangan mereka. Raih cita-cita yang masih menggantung di angan-angan. Itulah ruh dari setiap monumen. Dan untuk itulah monumen didirikan.


0 komentar:

Posting Komentar