Pujangga besar Inggris, William Shakespeare (1564 - 1616) pernah berucap, "what's in a name?". Apalah arti sebuah nama?
Hampir semua orang suka disapa dengan nama terbaiknya.
Memang nama tidak akan mengubah substansi sesuatu, seperti kata Shakespeare,
"That which we call a rose by any other name would smell as sweet,"
(andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau
wangi). Akan tetapi nama akan memberikan efek spikologis bagi pemiliknya. Jika
seseorang disebut namanya dengan penuh penghormatan tentu akan membuat senang.
Sebalikya, menyebut nama seseorang dengan nada mengejek apalagi menghina maka
akan memancing amarah dan kebencian.
Dalam suatu sesi pelatihan, seorang fasilitator berjuang
keras menghafal nama-nama peserta yang berjumlah lebih dari empat puluh orang.
Lakban besar dibagikan, lalu peserta menulis nama sapaan mereka dan
menempelkannya di dada. Dengan cara itu fasilitator bisa dengan mudah menyebut
nama setiap peserta. Dengan menyapa nama, komunikasi terbangun dengan baik.
Interaksi dengan peserta berjalan tanpa hambatan. Kegiatan pelatihan berjalan
lancar, cair dan penuh keakraban. Bagi fasilitator, kondisi pelatihan yang
demikian sudah menjadi bagian dari keberhasilan.
Sering mendengar keluhan beberapa teman guru tentang
siswa yang sulit ditertibkan di kelas, tidak konsentrasi dan cenderung abai
dalam pembelajaran. Mengapa hal ini terjadi? Bisa jadi karena hubungan antara
guru dan siswa yang kurang harmonis. Ada gap
antara guru dan siswa di kelas, interaksinya kaku bahkan kadang kurang
menyenangkan.
Bagaimana mengatasinya? Saya mencoba mengatasinya dengan
meniru fasilitator pelatihan yang saya ceritakan di awal, menghafal nama siswa
dan menyapanya. Kelas yang saya ajar, saya bagi dua. Ada kelas yang saya hafal
semua nama siswanya, saya namakan kelas A. Kelas yang lainnya hanya nama siswa
tertentu saja yang saya hafal, saya sebut kelas B. Di kelas A saya mengabsen
siswa tidak menggunakan daftar hadir. Di sela-sela pembelajaran saya
menghampiri beberapa siswa, menyebut namanya, alamatnya dan ngobrol tentang
keadaannya, termasuk keadaan keluarganya. Kadang bercanda ringan yang tidak
membuat kelas gaduh.
Cara ini saya ulang-ulang di setiap pembelajaran.
Dampaknya, di kelas A saya sangat akrab, terasa ada ikatan batin dengan siswa,
pembelajaran berlangsung dengan santai tetapi juga serius. Kelihatannya siswa
menikmati pembelajaran, tingkat kehadiran meningkat demikian pula dengan
keaktifan mereka dalam mengikuti proses pembelajaran. Sekat-sekat antara guru
dan siswa tanpa terasa terjembatani, sebagian besar siswa bebas berbicara dan
mengemukakan pendapat tanpa beban. Kondisi ini dimungkinkan karena kehadiran
guru di kelas dianggap sebagai mitra yang siap membantu mereka dalam belajar.
Di luar kelas siswa tidak segan-segan menyapa dan bahkan sering menguji daya
ingat saya dengan menanyakan namanya. Mereka sangat gembira jika saya bisa
menyebut namanya dengan benar.
Sementara itu di kelas B pembelajaran terkesan kaku,
kurang gairah dan tidak ada keakraban. Kelihatan sekali siswa memasang jarak
dengan saya, pembelajaran jauh dari
menyenangkan. Sampai pada akhirnya strateginya saya ubah, mengikuti kelas A.
Menghafal nama dan menyapa mereka.
Dari pengalaman kecil ini saya menyimpulkan bahwa rajin
menyapa siswa dengan menyebut namanya mempunyai pengaruh terhadap motivasi
belajar siswa. Karena itu guru perlu mengenal siswanya dengan baik, akrab
dengan mereka, tentu tetap dalam batas-batas kewajaran. Hubungan yang harmonis
antara guru dan siswa akan mempermudah kerja guru. Siswa akan mudah diarahkan
sehingga manejemen kelas bisa berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan.


Mengisnpirasi 👍 like pak
BalasHapusTerima kasih
Hapus