Channel YouTube

Senin, 17 Februari 2020

Menyapa




Pujangga besar Inggris, William Shakespeare (1564 - 1616) pernah berucap, "what's in a name?". Apalah arti sebuah nama?

Hampir semua orang suka disapa dengan nama terbaiknya. Memang nama tidak akan mengubah substansi sesuatu, seperti kata Shakespeare, "That which we call a rose by any other name would smell as sweet," (andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi). Akan tetapi nama akan memberikan efek spikologis bagi pemiliknya. Jika seseorang disebut namanya dengan penuh penghormatan tentu akan membuat senang. Sebalikya, menyebut nama seseorang dengan nada mengejek apalagi menghina maka akan memancing amarah dan kebencian.

Dalam suatu sesi pelatihan, seorang fasilitator berjuang keras menghafal nama-nama peserta yang berjumlah lebih dari empat puluh orang. Lakban besar dibagikan, lalu peserta menulis nama sapaan mereka dan menempelkannya di dada. Dengan cara itu fasilitator bisa dengan mudah menyebut nama setiap peserta. Dengan menyapa nama, komunikasi terbangun dengan baik. Interaksi dengan peserta berjalan tanpa hambatan. Kegiatan pelatihan berjalan lancar, cair dan penuh keakraban. Bagi fasilitator, kondisi pelatihan yang demikian sudah menjadi bagian dari keberhasilan.

Sering mendengar keluhan beberapa teman guru tentang siswa yang sulit ditertibkan di kelas, tidak konsentrasi dan cenderung abai dalam pembelajaran. Mengapa hal ini terjadi? Bisa jadi karena hubungan antara guru dan siswa yang kurang harmonis. Ada gap antara guru dan siswa di kelas, interaksinya kaku bahkan kadang kurang menyenangkan.

Bagaimana mengatasinya? Saya mencoba mengatasinya dengan meniru fasilitator pelatihan yang saya ceritakan di awal, menghafal nama siswa dan menyapanya. Kelas yang saya ajar, saya bagi dua. Ada kelas yang saya hafal semua nama siswanya, saya namakan kelas A. Kelas yang lainnya hanya nama siswa tertentu saja yang saya hafal, saya sebut kelas B. Di kelas A saya mengabsen siswa tidak menggunakan daftar hadir. Di sela-sela pembelajaran saya menghampiri beberapa siswa, menyebut namanya, alamatnya dan ngobrol tentang keadaannya, termasuk keadaan keluarganya. Kadang bercanda ringan yang tidak membuat kelas gaduh.

Cara ini saya ulang-ulang di setiap pembelajaran. Dampaknya, di kelas A saya sangat akrab, terasa ada ikatan batin dengan siswa, pembelajaran berlangsung dengan santai tetapi juga serius. Kelihatannya siswa menikmati pembelajaran, tingkat kehadiran meningkat demikian pula dengan keaktifan mereka dalam mengikuti proses pembelajaran. Sekat-sekat antara guru dan siswa tanpa terasa terjembatani, sebagian besar siswa bebas berbicara dan mengemukakan pendapat tanpa beban. Kondisi ini dimungkinkan karena kehadiran guru di kelas dianggap sebagai mitra yang siap membantu mereka dalam belajar. Di luar kelas siswa tidak segan-segan menyapa dan bahkan sering menguji daya ingat saya dengan menanyakan namanya. Mereka sangat gembira jika saya bisa menyebut namanya dengan benar.

Sementara itu di kelas B pembelajaran terkesan kaku, kurang gairah dan tidak ada keakraban. Kelihatan sekali siswa memasang jarak dengan saya, pembelajaran jauh  dari menyenangkan. Sampai pada akhirnya strateginya saya ubah, mengikuti kelas A. Menghafal nama dan menyapa mereka.

Dari pengalaman kecil ini saya menyimpulkan bahwa rajin menyapa siswa dengan menyebut namanya mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Karena itu guru perlu mengenal siswanya dengan baik, akrab dengan mereka, tentu tetap dalam batas-batas kewajaran. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa akan mempermudah kerja guru. Siswa akan mudah diarahkan sehingga manejemen kelas bisa berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan.





2 komentar: