Apakah Anda sering
dipusingkan dengan tingkah siswa? Sering bolos, ribut di kelas, susah diatur,
dan berbagai tingkah tak menyenangkan lainnya? Jika ya, tenang saja, jangan
panik. Sebab Anda tidak sendirian. Begitu banyak guru yang mengalaminya. Baiklah
mari kita berpikir yang jernih untuk mengurai soal ini. Kita mulai dari fakta
bahwa seringkali guru bersikap tidak adil terhadap siswa. Memvonis seenaknya
tanpa mau melihat secara utuh kejadian-kejadian yang berlangsung di kelas.
Padahal, perilaku siswa yang
menyimpang, bisa jadi bersumber dari guru. Metode Pembelajaran yang tidak
menarik, minim kreatifitas, membosankan dan tidak menantang. Guru yang mengajar
sekedar gugur kewajiban tanpa peduli dengan sikap belajar siswanya. Apa
kebutuhan mereka dan bagaimana memperlakukan mereka sesuai dengan karakter dan
dunianya. Pembelajaran macam ini jauh dari kata menyenangkan, justru yang
terjadi adalah penyiksaan. Saat-saat pembelajaran berlangsung siswa merasa
sedang berada dalam ruang-ruang penjara yang menyeramkan. Atau sedang duduk di
ruang tunggu yang menyiksa.Tanyakan pada siswa yang berkeliaran di luar ketika
pembelajaran berlangsung, jika dia jujur maka jawaban-jawaban yang mengejutkan
akan kita dengar.
Tetapi anehnya, kadang guru
tidak menyadari masalah ini atau malah tidak peduli. Problem-problem yang
dikemukakan di atas hanya jadi bahan keluhan setiap hari. Diperdebatkan dan
memvonis. Siswa menjadi tertuduh dan akhirnya dipersalahkan. Sekali-sekali mari
menunjuk ke dalam diri kita. Introspeksi, di mana letak masalah yang perlu
dibenahi. Kita sudah berada di abad 21, era yang penuh dengan tantangan.
Perubahan demi perubahan berlangsung dengan begitu cepat bahkan dalam hitungan
detik. Guru bersaing dengan kecanggihan teknologi yang sangat menggiurkan bagi
siapa saja termasuk siswa. Maka tidak boleh tidak, guru harus berpacu dengan
waktu menyesuaikan diri dengan denyut perubahan yang terjadi. Cara-cara
pembelajaran konvensional dengan hanya mengandalkan pembelajaran monolog dan
dengan media yang seadanya sudah harus ditinggalkan. Kalau tidak, guru yang
akan ditinggalkan oleh siswanya.
Empat ciri pembelajaran abad
21 harus benar-benar mewujud di kelas. Critical
thinking (berpikir kritik), communication (komunikasi), collaboration (kerja sama), dan creativity (daya cipta) mestinya
mewarnai aktifitas siswa dalam belajar. Ciptakan kelas yang menyenangkan
dengan model pembelajaran yang variatif dan inspiratif serta media pembelajaran
yang sesuai. Bagaimana mewujudkannya? Seperti yang dijelas sebelumnya, guru harus
berpacu dengan waktu, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Setiap saat
meng-upgrade kemampuan dan keterampilan mengajarnya. Penguasaan teknologi
terutama teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi agenda utama sebagai pintu
masuk menuju akses ilmu pengetahuan yang lebih luas. Termasuk menggunakan
fasilitas pembelajaran yang lebih variatif.
Semoga dengan demikian,
tingkat kejenuhan siswa akan berkurang. Berganti dengan kegembiraan dan
semangat dalam mengikuti pembelajaran. Tulisan ini adalah otokritik untuk diri
sendiri sebagai bahan instrospeksi.


0 komentar:
Posting Komentar