
Pertanyaan yang sering diperdebatkan siswa ketika membahas tema negara maju dan negara berkembang adalah; Indonesia, apakah tergolong negara maju atau negara berkembang? Biasanya dengan menggunakan metode brainstorming (curah pendapat), saya mendapati silang pendapat. Kelas pecah menjadi dua kelompok. Sekelompok siswa mengatakan Indonesia negara maju, kelompok lain menyebut Indonesia negara berkembang.
Siswa
yang mengelompokkan Indonesia pada negara maju menyampaikan fakta. Tentang
mall-mall yang tumbuh liar di kota-kota besar dengan model dan gaya modern
membuat air liur penggila mall bercucuran. Mobil-mobil mewah dengan model dan
gaya kekinian yang memadati jalan dan tempat parkir perkantoran. Gaya hidup
para pesohor negeri ini yang penuh glamor dan banyak ditiru oleh anak muda dan
anak tua yang seolah-olah muda. Perangkat-perangkat elektronik canggih, seperti
smartphone dan smart TV yang menyasar semua
kalangan, bukan lagi makhluk langka.
Pemaparan yang masuk akal.
Di
sisi seberang, siswa yang mengelompokkan Indonesia sebagai negara berkembang
tak kalah galaknya menyampaikan fakta. Tentang fasilitas kesehatan yang jauh
tertinggal, mereka dengan cekatan mencomot berita tentang mantan Ibu Negara,
Ibu Ani Yudoyono, Ustadz Arifin Ilham dan beberapa tokoh lainnya yang harus
dirujuk ke rumah sakit Singapura karena fasilitas rumah sakit Indonesia yang
kurang memadai. Fasilitas pendidikan Indonesia yang juga menurut mereka kalah
bersaing negara-negara lain. Buktinya banyak generasi muda Indonesia yang
tergila-gila untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Mereka tidak lupa
menyebut sederet nama artis terkenal seperti Maudy Ayunda, El Rumi, Teuku
Rasya, dan entah nama siapa lagi yang mereka sebut, saya tidak kenal. Ahh! Dasar
siswa penggila infotaiment!
Kelompok
ini juga menunjukkan bukti tentang taraf kesejahteraan rakyat yang masih
rendah, dengan masih banyaknya orang miskin. “Faktanya tidak usah jauh-jauh, di
kampung saya, rata-rata penduduknya miskin”, ucap Nadiah dengan mimik yang
sengaja dibuat garang. Di luar dugaan, mereka sampai menyerempet masalah
korupsi. Menurutnya, alasan yang paling tepat untuk mengelompokkan Indonesia
sebagai negara berkembang adalah masih maraknya prilaku korupsi di kalangan
pejabat dan dunia usaha. “Bagaimana negara mau maju kalau pejabat tidak
berhenti korupsi”, kata Kholis sang ketua kelas.
Saya
menikmati curah pendapat ini. Diam-diam saya mengagumi keluasan wawasan mereka.
Kelihatan sekali, mereka akrab dengan sumber-sumber belajar yang tidak terbatas
pada buku-buku teks di sekolah yang keadaannya sudah kumal dan penuh coretan
iseng. Ini sisi positif pemilikan gedget,
bagi siswa.
Brainstorming
selesai. Untuk memberikan kejelasan bagaimana mendudukkan Indonesia, apakah di
kelompok negara maju atau di negara berkembang, maka siswa diberi tugas secara
berkelompok untuk mengidentifikasi ciri negara berkembang dan ciri negara maju
yang kemudian dicocokkan dengan kondisi Indonesia. Dengan mencermati ciri-ciri
itu merekapun akhirnya sepakat, Indonesia tergolong negara berkembang!
Sekarang
tugas saya memberikan penguatan. Faktor yang sangat menentukan untuk kemajuan
suatu bangsa adalah mindset (pola
pikir) warganya. Mindset menjadi
dasar bagi seseorang untuk bertindak dan berprilaku. Bisa lahir dari agama/keyakinan
yang dianut, bacaan, pengalaman, lingkungan, bisa pula dari kebiasaan yang
terawat bertahun-tahun. Saya pernah membaca di sebuah majalah, saya lupa
namanya. Cerita tentang seorang dari negara berkembang (di majalah itu
disebutkan nama negaranya), sebut saja namanya Hendrik. Hendrik melawat ke
satu-satunya negara maju di Asia Tenggara, Singapura.
Suatu
pagi Hendrik keluar dari hotel tempatnya menginap untuk jogging. Bersamaan dengannya seorang warga Singapura, sebut saja
nama Thomas, juga keluar dari halaman rumahnya untuk keperluan yang sama.
Thomas ditemani oleh anjing kesayanganya. Jalanan masih sunyi, kendaraan yang
melintas masih jarang. Di sebuah perempatan, lampu merah menyala. Thomas yang
posisinya paling depan sudah menyebrang sebelum lampu merah menyala. Sementara
Hendrik dan anjingnya Thomas bersamaan tiba pada saat lampu merah menyala.
Anjing Thomas secara spontan berhenti dan menunggu lampu selanjutnya menyala.
Sementara Hendrik karena beranggapan bahwa jalanan masih sunyi lagi pula tidak
ada kendaraan yang lewat maka dia memilih lanjut melanggar lampu merah. Hendrik
dari sebuah negara berkembang membawa kebiasaannya ke Singapura, tidak
disiplin. Malahan kalah sama anjingnya Thomas yang dengan patuh mengikuti
isyarat lampu lalu lintas.
Pada
kesempatan yang lain saya membaca pula bagaimana budaya pengendara di Jepang.
Meskipun mengendara tengah malam, sendirian tanpa kendaraan lain dan tanpa
petugas yang berjaga. Jika lampu merah menyala pengendara tetap patuh,
berhenti. Dalam hal antri, Jepang adalah contoh terbaik. Dimanapun, kapanpun,
dan dalam keadaan mepet apapun, kalau sudah gilirannya mengantri maka orang
Jepang akan melakukannya dengan sangat baik dan teratur meski tak ada yang
mengatur. Di Jepang dan negara-negara maju lainnya menganggap bahwa budaya
antri harus ditanamkan ke anak-anak sedini mungkin bahkan pembelarannya
melebihi porsi mata pelajaran. Seorang guru dari Australia konon pernah
berkata; “kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak
pandai matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai
mengantri”.
Pada
perhelatan Piala Dunia di Rusia tahun 2018 lalu, suporter Jepang membuat dunia
tercengang. Meskipun kesebelasan kesayangannya tersingkir di Piala Dunia
setelah kalah dari Belgia pada babak 16 besar, tetapi negara ini diinggap
memenangi hati pencinta bola seluruh dunia. Berawal dari aksi simpatik yang
dipertontonkan oleh suporter negeri Sakura itu. Mereka membersihkan sampah di
stadion seusai pertandingan. Aksi ini menjadi viral dan menginspirasi beberapa
negara lainnya.
Dalam
perhelatan Asean Games tahun 2018 di Jakarta aksi serupa kembali
dipertontonkan. Dua orang suporter Jepang memunguti puntung rokok yang banyak
bertebaran di bawah pohon dan membuangnya di bak sampah. Foto-foto mereka
tersebar luas di media sosial dan mengundang banyak simpati. Beberapa waktu
lalu menteri Jepang untuk urusan olimpiade dan paralimpik, Yoshita Sakurada
meminta maaf secara terbuka karena terlambat tiga menit mengikuti rapat.
Meskipun demikian parlemen tetap mendesaknya untuk mengundurkan diri.
Jadi
penting untuk dipahami bahwa kemajuan suatu negara tidak boleh hanya dilihat
dari tampilan fisik. Dari gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil mewah,
atau perangkat teknologi serba canggih. Tetapi yang lebih utama dari semuanya
adalah memahami apa yang menjadi landasan dari capaian-capaian itu.
Mindset,
pola pikir membangun. Ini yang mendasari kemajuan Jepang, Singapura, Australia,
Amerika Serikat, Korea Selatan dan umumnya negara-negara Eropa. Pola pikir akan
menghasilkan karakter; disiplin, rajin, bertanggung jawab, ulet, sabar,
menghargai waktu, serta jujur. Karakter ini yang dimiliki oleh penduduk
negara-negara maju seperti yang dicontohkan pada beberapa potongan cerita di
atas. Pantas kalau mereka menikmati kemajuan dan berlomba menjauh meninggalkan
negara-negara berkembang.
Lalu
bagaimana dengan negeri kita? Saya sering bercerita sambil mengelus dada. Di
jalan, saat lampu merah menyala dengan tanpa penjagaan petugas, sebagian
pengendara malah tancap gas. Lampu hijau menyala, terlambat sedikit saja star
suara klakson berhamburan memekakkan telinga. Di perkantoran, pelayanan publik
terhambat oleh tidak adanya budaya antri, siapa kuat apalagi kenal dengan
petugas, urusan cepat beres. Di kendaraan umum maupun kendaraan pribadi,
penumpang seenaknya membuang sampah cemilan sepanjang jalan yang dilaluinya. Di
kantor-kontor, di sekolah, keterlambatan adalah hal yang lumrah. Di
pemerintahan, pengangkatan pejabat bukan kerena prestasi tetapi karena
kedekatan. Pengambilan keputusan, bukan karena kemaslahatan rakyat tetapi
karena kepentingan pribadi dan golongan. Masih banyak lagi yang akan membuat
sesak napas jika ingin menyebutnya.
Karakter
semacam inilah yang membuat bangsa ini berjalan terseok-terseok mengejar
ketertinggalannya. Maka tidak boleh tidak, kita harus bersegera mengikis habis
karakter parasit ini. Dan hal ini sangat bisa dilakukan sepanjang kita mau.
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, malahan adalah bangsa dengan
penduduk Muslim terbesar di dunia. Semua agama menjunjung tinggi karakter
berkemajuan. Ditambah lagi dengan falsafah negara yang menempatkan Indonesia
sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita juga memiliki banyak kearifan lokal
serta budaya yang mendukung kemajuan.
Unsur-unsur ini bisa kita padukan, di-eksplorasi untuk menghasilkan pola pikir dan karakter membangun.

0 komentar:
Posting Komentar