Channel YouTube

Kamis, 05 Desember 2019

Guru Versus Siswa, Kapan Berakhirnya?


Tragedi Paduan Suara

Satu-satunya kejadian yang dulu membuat saya diinterogasi di ruang BK adalah paduan suara. Hari senin, pagi itu siswa sudah siap di lapangan, upacara akan segera dimulai. Kelas saya mendapat giliran menjadi pelaksana upacara. Dalam pembagian petugas upacara, saya didaftar di kelompok paduan suara. Tugas yang paling tidak menyenangkan,  saya selalu tidak percaya diri untuk memperdengarkan suara, bernyanyi di hadapan orang banyak. Paduan suara sangat tidak cocok bagiku. Selama ini setiap bertugas sebagai pelaksana upacara, saya langganan sebagai pembaca doa, dan saya bisa menjalankan tugas ini dengan senang hati. Di sekolah baru ini, saya terasing, nyaris tanpa teman. Maklum, saya termasuk manusia dengan tingkat sosialisasi yang sangat rendah. Hal ini membuat saya lebih banyak diam dan pasrah dengan keputusan teman-teman.

Upacara sebentar lagi dimulai. Saya memilih tidak bergabung dengan kelompok paduan suara. Saya menyelinap berdiri di barisan kelas yang lain. Pagi itu upacara berlangsung dengan hikmat, teman-teman bisa menjalankan tugas dengan baik. Upacara selesai, siswa bubar masuk ke kelas masing-masing.

Di kelas, sebelum guru jam pertama datang, wali kelas saya masuk. Diam sejenak, dari tatapannya sepertinya beliau mencari seseorang. Tiba-tiba dia memandang ke arahku lalu mengajak saya keluar. Saya menurut mengikuti langkahnya, rupanya dia menuju ke ruang Bimbingan Konseling (BK). Saya sadar, ada yang tidak beres. Ternyata wali kelas cukup teliti, dia tahu saya tidak bergabung dengan kelompok paduan suara saat upacara tadi. Menurutnya ini adalah kesalahan yang sangat serius, mengancam stabilitas sekolah sehingga pelakunya harus digiring ke ruang paling angker di sekolah itu, Ruang BK. Di ruang BK saya diinterogasi oleh guru BK paling senior, yang diakhiri dengan penandatanganan surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan itu di kemudian hari.

Dengan mengaku bersalah dan berjanji tidak mengulangi lagi, saya kira masalahnya selesai. Rupanya tidak sesederhana itu. Guru BK menyodorkan surat skorsing. Hari itu saya diskorsing dan dipersilahkan kembali ke kelas mengambil perlengkapan dan pulang. Saya protes, hukuman ini terlalu berat. Selama ini saya belum pernah melanggar tata tertib sekolah. Saya adalah siswa yang sangat patuh, saya belum pernah punya catatan pelanggaran apapun, dan hal itu bisa ditelusuri. Tanyakan ke guru mata pelajaran dan bahkan ke wali kelas yang menyeret saya ke ruangan ini. Apakah adil, siswa yang selama ini berlaku baik harus diberikan hukuman seberat ini, untuk pelanggaran yang pertama kali dilakukannya. Itupun pelanggaran yang tidak tergolong berat.
Dengan pertimbangan-pertimbangan itu, saya memohon, berharap guru BK mengubah keputusannya. Tetapi apa boleh buat, dia sekokoh tembok, tetap pada keputusannya. Saya pulang dengan perasaan kacau balau. Merasa terhina, diperlakukan bak penjahat kelas kakap. Sangat tidak adil.


Petaka Kue Bagea

Hari Jumat, saya datang lebih awal. Hari ini adalah tugas saya membersihkan kelas. Tanpa menunggu teman-teman yang juga bertugas hari itu, saya mengambil sapu dan sejurus kemudian sampah-sampah di kelas sudah berpindah ke tempatnya yang layak. Tugas selesai, saya istirahat sambil menunggu bel masuk. Teman-teman yang lain mulai berdatangan. Seorang teman yang baru saja pulang kampung masuk dengan mengumbar senyum. Tangannya menenteng oleh-oleh, bagea, penganan tradisional yang terbuat dari sagu dan dibungkus daun pisang kering. Dia berteriak menawarkan bagea yang dibawanya. Satu kelas menyerbu, berebutan, termasuk saya..hehe.

Suasana kelas menjadi ramai, sepertinya teman-teman sangat menikmati kue gratis itu. Tetapi petaka bagi saya, sampah pembukus bagea berserakan memenuhi kelas. Bersamaan dengan itu bel tanda masuk berbunyi, tidak berselang lama guru jam pertama pun datang. Dia kaget melihat sampah berserakan. Tanpa berkata sepatah pun dia berjalan menghampiri daftar piket kebersihan kelas yang tertempel di tembok. Lalu memanggil satu demi satu nama petugas kebersihan hari itu. Di awali nama saya menyusul nama-nama yang lain. Kami diminta berdiri di depan kelas setelah itu kami disuruh keluar tidak boleh mengikuti pelajaran. Saya ingin protes dan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi, tapi tidak berani, takut melihat wajah guru saya yang memerah, jangan-jangan kena damprat lagi. Teman-teman yang lainpun tidak ada yang berani. Akhirnya petugas kebersihan hari itu dihukum berjamaah tidak diizinkan mengikuti pelajaran.


Harus Bagaimana?

Dua peristiwa di atas sangat membekas, tidak pernah saya lupakan. Mohon maaf, tanpa bermaksud menjelek-jelekkan guru saya. Apapun adanya mereka adalah guru saya yang wajib dihormati. Saya hanya ingin kita semua mengambil pelajaran bahwa terkadang guru memiliki keterbatasan dalam memahami masalah dan lalu terburu-buru mengambil tindakan memberikan sanksi.  Bagi sebagian guru hal ini mungkin dianggap sederhana, tetapi bagi siswa tidak. Peristiwa-peristiwa menyakitkan ketika dia merasa diperlakukan tidak adil akan terus membekas, dan tidak jarang menjadi trauma baginya.

Pengalaman saya berdialog dengan siswa yang sering bermasalah di sekolah, beberapa di antaranya mengaku bahwa perbuatannya berawal sejak gurunya berlaku aniaya terhadapnya, memaksa mengakui perbuatan yang dia tidak pernah dilakukan. Pengalaman buruk ini malah ada yang menjadi sebab siswa memutuskan untuk berhenti sekolah.

Bijaklah dalam membuat keputusan, termasuk jika siswa dengan terpaksa diberikan sanksi. Lakukan sesuai prosedur yang benar. Untuk itu saya menyarankan beberapa hal yang mungkin bisa dipertimbangkan :
1.     Pastikan bahwa di setiap sekolah terdapat tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah harus jelas mengatur hal-hal apa saja yang termasuk pelanggaran jika dilakukan oleh siswa, kategori pelanggaran (ringan, sedang, berat), prosedur penanganan kasusnya, jenis sanksi yang diberikan untuk semua kategori pelanggaran, serta prosedur pemberian sanksi. Tata tertib ini harus dipahami oleh setiap warga sekolah, siswa, guru, pegawai, petugas keamanan, bahkan karyawan kantinpun harus tahu. Tidak hanya itu komite sekolah dan orang tua pun wajib paham. Karena itu tata tertib sekolah mestinya disosialisasikan kepada semua pihak yang terkait dengan pengelolaan sekolah.
2.     Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa penanganannya merujuk ke tata tertib ini. Jadi tidak boleh ada oknum memberikan sanksi di luar apa yang diatur oleh tata tertib.
3.     Sebagai pengawal tata tertib, sekolah sebaiknya membentuk tim penegak disiplin atau katakanlah komite disiplin, semacam Dewan Kehormatanlah kalau di DPR. Tim ini beranggotakan guru BK, wali kelas, guru-guru yang berkompeten, termasuk Komite Sekolah. Komite disiplin bertugas mempelajari setiap kasus yang diduga pelanggaran yang dilakukan oleh siswa kemudian memberikan keputusan terhadap kasus itu. Jadi prilaku siswa yang diduga kuat sebagai tindak pelanggaran dilaporkan ke Komite Disiplin untuk dipelajari dan diberi keputusan. Tentu tidak semua kasus harus dibawa ke komite disiplin, kasus-kasus ringan cukup diselesaikan di tempat dengan tetap berpedoman pada ketentuan tata tertib.
4.     Dalami setiap kasus secara menyeluruh. Jangan mengambil keputusan dengan hanya melihat hal-hal dipermukaan saja. Terkadang kita menghukum orang yang hanya pelaku piguran dan mengabaikan tokoh utamanya. Umar bin Khattab pernah mengatakan, “lebih baik saya melepaskan orang yang bersalah tetapi tidak cukup bukti dari pada saya menghukum orang yang sama sekali tidak bersalah”. Mengapa ini penting? Di sekolah begitu banyak siswa yang dikira pelaku padahal sesungguhnya dia adalah korban. Korban ketidakberdayaan, mungkin lebih tepat dikatakan dikorbankan. Ketakutannya pada temannya jauh lebih besar dibanding ketakukannya terhadap sanksi di sekolah. Sudahlah menjadi korban bully oleh temannya dapat bully pula oleh sekolah.
5.     Efektifkan program pembinaan karakter baik yang terintegrasi dengan pembelajaran di kelas maupun melalui kegiatan-kegiatan eksrakurikuler. Fokuslah pada penyaluran bakat dan minat siswa untuk memperkecil peluang mereka melakukan tindakan yang tidak bermanfaat.
6.     Jangan lupa, lakukan kerja sama yang baik dengan orang tua siswa dan seluruh stakeholder yang ada. Karena prilaku siswa sebagian dipengaruhi oleh latar belakang keluarga dan juga lingkungan di mana dia berada. Adakan disdikusi secara berkala terkait dengan problem siswa baik dalam hal pencegahan maupun penanggulangan. Sekolah, orang tua, dan semua stakeholder memiliki tanggung jawab yang sama dalam pencegahan dan penanggulangan prilaku menyimpang siswa.
7.     Mendidiklah dengan hati. Kalimat ini mungkin terlalu normatif, menerapkannya pun tidak semudah mengucapkannya. Tetapi jika ingin sukses sebagai pendidik, tidak bisa tidak, konsep ini harus dijalankan. Karena inilah keunggulan guru di atas teknologi. Masalah kecerdasan, teknologi jauh lebih hebat dari guru. Kotak ilmu ada di genggaman anak-anak kita. ilmu apapun yang mereka ingin pelajari cukup memainkan jari-jemari di layar smartphone miliknya. Tetapi teknologi tidak punya filter dalam mentransfer nilai, kebaikan atau ketidakbaikan dan ini berbahaya. Teknologi tergantung dari penggunanya digunakan untuk kebaikan, siap! digunakan untuk kejahatanpun oke-oke saja!.

Guru yang mendidik dengan hati tidak sekedar menstransfer ilmu tetapi juga menularkan nilai-nilai kebaikan kepada siswanya melalui keteladanan. Cara berpikir, bertindak dan bertutur didasari oleh hati yang bening, hati yang bersih. Menghadapi siswa yang bermasalahpun tidak menyebabkan dia bertindak arogan dan tutur kata yang menyakitkan, malah tetap bersangka baik. Meminjam istilah Aa Gym, sekolah harus dikelola dengan prinsip manajemen qalbu, menata hati.

Sekali lagi ini berat, tidak semudah mengucapkannya. Tetapi saya yakin setiap guru yang menyadari tugas dan tanggung jawabnya akan selalu berusaha. Berusaha yang terbaik untuk mengawal dan mempersiapkan generasi bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

Semoga dengan demikian, kasus-kasus perseteruan antara guru dengan siswa yang kian marak akhir-akhir ini akan semakin berkurang. Atau kalau mungkin dihilangkan sama sekali. 



0 komentar:

Posting Komentar