Tidak peduli siapa pun Anda. Pejabat tinggi, jenderal
penuh bintang, artis terkenal atau pengusaha kaya raya. Di mata Ibu, Anda tetaplah seorang anak.
Pada umumnya kaum Ibu tidak pernah berubah dalam
memahami anak-anaknya. Bagaimana pun keadaan Anda hari ini, baginya, Anda adalah bocah seperti dahulu kala.
Sekalipun saat ini Anda sudah punya anak. Atau mungkin sudah bercucu.
Naluri keibuannya tidak berubah. Melindungi dengan segenap kemampuan, mengasihi tanpa batas, ikhlas tiada terukur, dan mencintai kadang tanpa logika (pinjam syair lagunya Agnes Mo, hehe). Tak peduli, berapa kali anda menyakiti, di hatinya tidak ada ruang sesempit apapun untuk menyelipkan rasa dendam. Kasih sayangnya tidak pernah berkurang.
Karena itulah saya kurang respek dengan cerita si Malinkundang,
kok ada ibu yang tegah mengutuk anaknya jadi batu. Cerita ini mengingkari
naluri keibuan. Kalau zaman sekarang, ibu si Malin ini sudah di mejahijaukan
dengan dakwaaan melanggar Undang-undang Perlindungan Anak.
Izinkan saya untuk mengambil ibuku sebagai sampel. Setiap
saya mengunjunginya, dia masih memperlakukan saya seperti puluhan tahun yang
lalu, ketika saya masih ingusan. Menyiapkan makan, membuatkan teh, mengambilkan
bantal. Tidak lupa mengurutkan instruksi-instruksi yang harus saya patuhi; pergi
makan dulu nanti ikannya diambil kucing, tehnya diminum nanti dingin, selesai
makan letakkan saja piring di meja.
Bagi ibuku zaman boleh berubah tetapi ibu tetaplah ibu yang punya tanggung jawab merawat dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dan itu tidak boleh tergerus oleh zaman sampai kapan pun. Kalau saya coba protes, dia hanya ketawa kecil tetapi tidak merubah keadaan. Baginya mengurus keperluan anak-anaknya adalah suatu kebahagiaan. Jadi, sudahlah daripada mendebat, dapat dosa lagi.
Bagi ibuku zaman boleh berubah tetapi ibu tetaplah ibu yang punya tanggung jawab merawat dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dan itu tidak boleh tergerus oleh zaman sampai kapan pun. Kalau saya coba protes, dia hanya ketawa kecil tetapi tidak merubah keadaan. Baginya mengurus keperluan anak-anaknya adalah suatu kebahagiaan. Jadi, sudahlah daripada mendebat, dapat dosa lagi.
Ibu saya adalah ibu rumah tangga tulen yang jam kerjanya
24 jam sehari. Tanpa mengenal hari libur apalagi cuti. Tidak punya gaji, uang
yang diberikan oleh ayah, habis untuk keperluan rumah tangga. Itu pun setelah
melalui proses pengiritan belanja yang super ketat. Hebatnya tidak sekalipun saya
mendengar dia mengeluh.
Jangankan berkeluh kesah, ibuku malah dengan percaya
diri memberikan nasehat, “jangan mengeluh, mengeluh adalah pekerjaan orang yang
tidak memiliki rasa syukur”. Sebuah nasehat yang menurutku aneh. Biasanya
nasehat yang bertemakan syukur ditujukan untuk orang kaya, orang berkecukupan. Orang
miskin cocoknya adalah nasehat tentang sabar. Tetapi itulah ibu saya, sesekali
dia berpikir out the box. “Orang kaya
yang bersyukur, itu biasa. Si miskin tetapi bersyukur ini yang luar biasa”,
mungkin itu yang ada di benaknya.
Ibuku paling tidak suka dengan orang malas. Saatnya kerja di sawah, tidak boleh ada yang tinggal di rumah. Termasuk saya, sejak kelas awal SD saya sudah berjibaku dengan lumpur di sawah. Paginya berseragam sekolah, siangnya mengenakan pakaian dinas harian (PDH) khusus sawah.
Kedisiplinan, jangan ditanya. Berangkat sekolah tidak
boleh terlambat, dalam keadaan darurat sekalipun, hujan misalnya. Jika
tanda-tanda musim hujan sudah terlihat, ibu cepat mengajukan proposal ke ayah
untuk pembelian plastik (biasanya 1 x 1,5 meter) yang akan saya pakai sebagai
jas hujan. Sedikit lebih elit dari beberapa teman yang ke sekolah berpayung
daun pisang.
Hujan atau tidak hujan jam berangkat ke sekolah tetap
sama, tidak boleh terlambat. Akibatnya saya sering sendirian di sekolah menunggu
teman-teman yang menyengaja terlambat dengan menyalahkan hujan.
Membicarakan tentang ibu, tanpa kita sadari, kita telah
membahas materi yang agak rumit dalam sistem pendidikan kita, yaitu pendidikan
karakter. Saya katakan rumit karena prihal pendidikan karakter telah lama
didiskusikan, dibahas dalam workshop-workshop bahkan Peraturan Pemerintah
tentang Penguatan Pendidikan Karakter telah diterbitkan. Tetapi karakter
anak-anak kita tampaknya belum menggembirakan. Berita-berita negatif tentang prilaku
peserta didik masih setia menghias pemberitaan di media massa.
Salah satu problemnya adalah bahwa pendidikan
karakter mulai melemah pada pusat penidikan pertama yaitu keluarga. Sejatinya,
keluarga adalah tempat persemaian nilai-nilai kebaikan dan ibu adalah mentor
utamanya. Melalui ibu, anak-anak akan belajar kasih sayang, kesabaran,
ketulusan dan nilai-nilai kebaikan yang lain. Melalui ibu juga anak-anak
mengenal penciptaNya serta kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba. Dengan
kata lain, dalam keluargalah anak-anak mengenal sikap spiritual dan sikap
sosial. Dua sikap yang direkomendasikan oleh kurikulum sebagai acuan pendidikan
karakter.
Sangat disayangkan, bahwa perubahan masa turut merubah
tatanan keluarga. Keluarga yang dulu menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi
tumbuh kembang anak. Kini pun mulai goyah dan tidak sedikit di antaranya gagal
dalam menghadirkan anak-anak yang berkarakter sebagaimana yang diharapkan.
Andai saja keluarga menjalankan fungsinya, maka pengembangan
pendidikan karakter di sekolah akan lebih mudah. Terlebih jika didukung oleh
masyarakat dengan menyiapkan lingkungan yang kondusif. Maka semestinya
pendidikan karakter selesai di rumah, dikembangkan di sekolah dan diterapkan di
masyarakat.
Masalah ini menjadi rumit jika pendidikan karakter hanya
diserahkan kepada sekolah. Sekolah akan menjadi gudang tempat penumpukan
masalah yang seharusnya bisa selesai di tempat lain. Akhirnya sekolah sering
menjadi terdakwa utama dalam hal prilaku-perlaku negatif peserta didik.
Sudah saatnya keluarga dan masyarakat mengambil peran
lebih aktif dalam pengembangan pendidikan karakter sesuai dengan fungsi dan
kewenangan masing-masing. Keluarga, sekolah dan masyarakat adalah tiga pusat
pendidikan yang harus padu dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.


0 komentar:
Posting Komentar