Channel YouTube

Rabu, 29 Januari 2020

Ibu dan Pendidikan Karakter


Tidak peduli siapa pun Anda. Pejabat tinggi, jenderal penuh bintang, artis terkenal atau pengusaha kaya raya. Di  mata Ibu, Anda tetaplah seorang anak.

Pada umumnya kaum Ibu tidak pernah berubah dalam memahami anak-anaknya. Bagaimana pun keadaan Anda hari ini, baginya,  Anda adalah bocah seperti dahulu kala. Sekalipun saat ini Anda sudah punya anak. Atau mungkin sudah bercucu.

Naluri keibuannya tidak berubah. Melindungi dengan segenap kemampuan, mengasihi tanpa batas, ikhlas tiada terukur, dan mencintai kadang tanpa logika (pinjam syair lagunya Agnes Mo, hehe). Tak peduli, berapa kali anda menyakiti, di hatinya tidak ada ruang sesempit apapun untuk menyelipkan rasa dendam. Kasih sayangnya tidak pernah berkurang.

Karena itulah saya kurang respek dengan cerita si Malinkundang, kok ada ibu yang tegah mengutuk anaknya jadi batu. Cerita ini mengingkari naluri keibuan. Kalau zaman sekarang, ibu si Malin ini sudah di mejahijaukan dengan dakwaaan melanggar Undang-undang Perlindungan Anak.

Izinkan saya untuk mengambil ibuku sebagai sampel. Setiap saya mengunjunginya, dia masih memperlakukan saya seperti puluhan tahun yang lalu, ketika saya masih ingusan. Menyiapkan makan, membuatkan teh, mengambilkan bantal. Tidak lupa mengurutkan instruksi-instruksi yang harus saya patuhi; pergi makan dulu nanti ikannya diambil kucing, tehnya diminum nanti dingin, selesai makan letakkan saja piring di meja. 

Bagi ibuku zaman boleh berubah tetapi ibu tetaplah ibu yang punya tanggung jawab merawat dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dan itu tidak boleh tergerus oleh zaman sampai kapan pun. Kalau saya coba protes, dia hanya ketawa kecil tetapi tidak merubah keadaan. Baginya mengurus keperluan anak-anaknya adalah suatu kebahagiaan. Jadi, sudahlah daripada mendebat, dapat dosa lagi.

Ibu saya adalah ibu rumah tangga tulen yang jam kerjanya 24 jam sehari. Tanpa mengenal hari libur apalagi cuti. Tidak punya gaji, uang yang diberikan oleh ayah, habis untuk keperluan rumah tangga. Itu pun setelah melalui proses pengiritan belanja yang super ketat. Hebatnya tidak sekalipun saya mendengar dia mengeluh.

Jangankan berkeluh kesah, ibuku malah dengan percaya diri memberikan nasehat, “jangan mengeluh, mengeluh adalah pekerjaan orang yang tidak memiliki rasa syukur”. Sebuah nasehat yang menurutku aneh. Biasanya nasehat yang bertemakan syukur ditujukan untuk orang kaya, orang berkecukupan. Orang miskin cocoknya adalah nasehat tentang sabar. Tetapi itulah ibu saya, sesekali dia berpikir out the box. “Orang kaya yang bersyukur, itu biasa. Si miskin tetapi bersyukur ini yang luar biasa”, mungkin itu yang ada di benaknya.

Ibuku paling tidak suka dengan orang malas. Saatnya kerja di sawah, tidak boleh ada yang tinggal di rumah. Termasuk saya, sejak kelas awal SD saya sudah berjibaku dengan lumpur di sawah. Paginya berseragam sekolah, siangnya mengenakan pakaian dinas harian (PDH) khusus sawah.

Kedisiplinan, jangan ditanya. Berangkat sekolah tidak boleh terlambat, dalam keadaan darurat sekalipun, hujan misalnya. Jika tanda-tanda musim hujan sudah terlihat, ibu cepat mengajukan proposal ke ayah untuk pembelian plastik (biasanya 1 x 1,5 meter) yang akan saya pakai sebagai jas hujan. Sedikit lebih elit dari beberapa teman yang ke sekolah berpayung daun pisang.

Hujan atau tidak hujan jam berangkat ke sekolah tetap sama, tidak boleh terlambat. Akibatnya saya sering sendirian di sekolah menunggu teman-teman yang menyengaja terlambat dengan menyalahkan hujan.

Membicarakan tentang ibu, tanpa kita sadari, kita telah membahas materi yang agak rumit dalam sistem pendidikan kita, yaitu pendidikan karakter. Saya katakan rumit karena prihal pendidikan karakter telah lama didiskusikan, dibahas dalam workshop-workshop bahkan Peraturan Pemerintah tentang Penguatan Pendidikan Karakter telah diterbitkan. Tetapi karakter anak-anak kita tampaknya belum menggembirakan. Berita-berita negatif tentang prilaku peserta didik masih setia menghias pemberitaan di media massa.

Salah satu problemnya adalah bahwa pendidikan karakter mulai melemah pada pusat penidikan pertama yaitu keluarga. Sejatinya, keluarga adalah tempat persemaian nilai-nilai kebaikan dan ibu adalah mentor utamanya. Melalui ibu, anak-anak akan belajar kasih sayang, kesabaran, ketulusan dan nilai-nilai kebaikan yang lain. Melalui ibu juga anak-anak mengenal penciptaNya serta kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba. Dengan kata lain, dalam keluargalah anak-anak mengenal sikap spiritual dan sikap sosial. Dua sikap yang direkomendasikan oleh kurikulum sebagai acuan pendidikan karakter.

Sangat disayangkan, bahwa perubahan masa turut merubah tatanan keluarga. Keluarga yang dulu menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak. Kini pun mulai goyah dan tidak sedikit di antaranya gagal dalam menghadirkan anak-anak yang berkarakter sebagaimana yang diharapkan.

Andai saja keluarga menjalankan fungsinya, maka pengembangan pendidikan karakter di sekolah akan lebih mudah. Terlebih jika didukung oleh masyarakat dengan menyiapkan lingkungan yang kondusif. Maka semestinya pendidikan karakter selesai di rumah, dikembangkan di sekolah dan diterapkan di masyarakat.

Masalah ini menjadi rumit jika pendidikan karakter hanya diserahkan kepada sekolah. Sekolah akan menjadi gudang tempat penumpukan masalah yang seharusnya bisa selesai di tempat lain. Akhirnya sekolah sering menjadi terdakwa utama dalam hal prilaku-perlaku negatif peserta didik.

Sudah saatnya keluarga dan masyarakat mengambil peran lebih aktif dalam pengembangan pendidikan karakter sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing. Keluarga, sekolah dan masyarakat adalah tiga pusat pendidikan yang harus padu dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.

0 komentar:

Posting Komentar