Sebagai bekas kerajaan besar, Gowa memiliki
tinggalan-tinggalan sejarah yang syarat dengan makna dan kearifan. Situs-situs
ini adalah saksi bisu kebesaran Gowa di masa lalu. Simbol dari pergolakan jiwa
orang-orang Gowa dalam menegakkan sirik dan kehormatannya.
Memandangi reruntuhan benteng-benteng
pertahanan Gowa akan menuntun kita menyusuri lorong waktu masa lalu, dan
menyaksikan betapa orang Gowa adalah patriot-patriot sejati. Mereka rela
mengorbankan apa yang mereka miliki demi kehormatan bangsanya. Di lorong waktu
kita membayangkan kilatan peluruh yang dimuntahkan meriam VOC menggetarkan
tembok-tembok Benteng Somba Opu dan kegigihan tu baranina Gowa menghalau setiap serangan. Walaupun pada akhirnya
benteng direbut. Apa boleh buat, setidaknya janji telah ditunaikan, kehormatan
telah ditegakkan.
Benteng bisa saja hancur tetapi api
perjuangan tidak akan pernah padam. “Takunjunga
bangun turu’ nakugunciri’ gulingku kualleanna Tallanga na toalia” (bila
layarku telah terkembang, kemudiku telah terpasang, lebih baik tenggelam
daripada surut ke pantai). Filosofi pelaut Makassar ini menginspirasi
orang-orang Gowa untuk berjuang pantang menyerah. Bila niat sudah terpatri persiapan
sudah matang, bersegeralah melangkah dan jangan pernah kembali sebelum tujuan
tercapai.
Setelah Benteng Sombaopu direbut kemudian
dihancurkan oleh VOC, sebagian bangsawan Gowa yang tidak rela hidup dalam kekuasaan VOC, menyebar ke berbagai wilayah
Nusantara untuk meneruskan perjuangan. Karaeng Galesong menyeberang ke
Jawa membantu perjuangan Trunojoyo di Jawa Timur dan Karaeng Bontomarannu bergabung dengan Syekh Yusuf di Banten. Adegan-adegan ini bukan drama picisan,
tetapi fakta yang berbicara kepada generasi sekarang tentang kegigihan dan
patriotisme yang tidak pernah luntur.
Di era milineal sekarang, penting untuk
merangkai kembali ingatan kita tentang sejarah ini. Apa pentingnya? Bukankah sejarah adalah bagian dari pendidikan
karakter. Kita butuh inspirasi sejarah
untuk membangun karakter generasi bangsa yang hingga kini semakin kehilangan
arah. Padahal pembangunan karakter seharusnya menjadi pijakan dari
kesinambungan pembangunan di bidang lainnya. Sejarah adalah mata air yang tidak
pernah kering sebagai sumber ilmu dan nilai. Mengajarkan kepada setiap generasi
tentang pergulatan hidup manusia dengan berbagai peristiwa yang dilakoninya.
Tentang benar dan yang salah, tentang kepahlawanan dan pengkhianatan, tentang
keberanian dan kepengecutan. Dan tidak diragukan, Sejarah Gowa sarat dengan
nilai-nilai itu.
Namun, apakah orang Gowa paham dengan
sejarahnya? Entahlah. Tetapi dari pengalaman saya mengajarkan sejarah di sekolah
dan perbincangan dengan sesama guru sejarah, saya mendapati bahwa pengetahuan
siswa tentang sejarah Gowa teramat minim. Bagaimana dengan kalangan umum atau
bahkan kalangan pejabat sekalipun? Bisa jadi keadaannya pun serupa.
Kepedulian masyarakat Gowa terhadap
situs-situs sejarah juga masih tergolong rendah. Dari data yang ada di setiap
tempat bersejarah memperlihatkan bahwa minat masyarakat berkunjung ke
tempat-tempat itu masih kurang. Baik dari kalangan masyarakat umum maupun
pelajar. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh dua hal; 1) penataannya yang
kurang menarik ditambah dengan promosinya yang kurang giat; 2) sejarah Gowa
tidak diajarkan di sekolah-sekolah sehingga tidak melahirkan rasa ingin tahu di
kalangan siswa.
Tentang kemungkinan pertama; Penataan bangunan
bersejarah kurang menarik. Hal ini telah dijawab oleh Pemerintah Kabupaten Gowa
dengan merevitalisasi dan mengadakan penataan di beberpa situs. Seperti kawasan
makam Sultan Hasanuddin di Bukit Tamalate serta kawasan Museum Ballalompoa. Patut
disyukuri bahwa situs-situs tersebut mulai tertata dengan baik. Tetapi kita
tidak boleh berhenti di penataan itu, dibutuhkan upaya promosi dan edukasi ke
masyarakat tentang keberadaaan situs tersebut.
Di pelataran Ballalompoa misalnya, bisa dijadikan
sebagai pusat pegelaran seni dan budaya Gowa. Kegiatan ini bisa dilakukan
sekali dalam sebulan sangat bagus jika bertepatan dengan malam bulan purnama
sehingga akan menghidupkan kembali budaya assinga-singara
bulan yang dulu menjadi hiburan gratis dan sangat diminati oleh masyarakat
Gowa. Pelaksananya adalah setiap kecamatan secara bergiliran. Setiap kecamatan
akan menampilkan kesenian daerah seperti assinrinli,
pakacaping, paddekko, akroyong, tarian tradisional, serta permainan rakyat
bagi anak-anak seperti asing-asing,
enggo, gasing dan sebagainya. Sementara ibu-ibu akan menjajakan kuliner
khas Gowa berupa makanan, kue dan minuman tradisional dengan stand yang khusus
dibuat untuk itu. Kegiatan ini akan sangat penting sebagai upaya pewarisan
budaya leluhur sekaligus mempopulerkan Museum Ballompoa sebagai sumber
informasi tentang sejarah tumbuh dan berkembangkannya Kerajaan Gowa. Secara
ekonomis kegiatan ini juga akan mengangkat perekonomian masyarakat menengah ke
bawah.
Kemungkinan kedua; sejarah Gowa tidak diajarkan di
sekolah-sekolah. Ironis memang. Di sekolah, anak-anak kita diajarkan sejarah
tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan detail, mulai dari awal
terbentuknya, perkembangannya, hingga runtuhnya. Sementara materi sejarah Gowa
hanya secuil paling hanya berkisar tentang sejarah masuknya Islam dan
perjuangan Sultan Hasanuddin melawan VOC (bisa dilihat pada buku standar
Sejarah Nasional Indonesia jilid III dan IV). Lalu apa solusinya? Jadikan Sejarah Gowa
sebagai muatan lokal. Bentuk tim untuk membuat kajian komprehensif terhadap
materi ajar sejarah Gowa. Buat silabusnya, lengkapi bahan ajarnya. Lalu ajukan
permohonan ke Kemendikbud untuk mendapat pengesahan.
Jika menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal tidak
memungkinkan, masih ada alternatif lain. Masukkan materi-materi sejarah lokal
ke dalam Bahasa Daerah. Kita tahu bahwa bahasa daerah sudah diakui sebagai
muatan lokal di kurikulum. Materi Bahasa Daerah yang selama ini diajarkan
direvisi, materi-materi yang kurang perlu seperti tata bahasa dikeluarkan dan
digantikan dengan materi sejarah termasuk budaya. Jadi muatan kurikulum bahasa
daerah hanya dua yaitu sejarah termasuk budaya Gowa serta Lontarak. Hal ini
sekaligus memperbaiki bahan ajar Bahasa Daerah yang selama ini digunakan.
Bahasa Daerah sebaiknya hanya fokus ke pelestarian huruf Lontarak dan budaya
Makassar.
Kalau cara itupun masih sulit, masih ada cara ketiga. Membentuk
tim safari sejarah dan budaya Gowa. Tim ini secara berkala akan berkeliling ke
sekolah-sekolah atau mungkin juga ke instansi-instansi pemerintah untuk memberikan
penerangan tentang sejarah Gowa. Dijadwalkan secara tetap dan materi yang sudah
tersusun dengan silabus yang sudah divalidasi oleh ahlinya. Pelaksanaannya akan
mirip dengan Jumat Ibadah yang selama ini sudah berjalan dengan jadwal tetap. Untuk
mendukung edukasi sejarah, Pemerintah Kabupaten perlu juga menggalakkan
penelitian, penulisan dan publikasi baik berupa buku, brosur, dan artikel
tentang sejarah Gowa.
Semoga dengan demikian sejarah Gowa menjadi tuan rumah
di daerahnya sendiri. Menginspirasi setiap generasi untuk meraih kejayaan Gowa
kini dan di masa depan. Karena sejatinya sejarah bukanlah masa lalu untuk masa
lalu tetapi masa lalu untuk masa depan.


0 komentar:
Posting Komentar