Channel YouTube

Jumat, 10 Januari 2020

Literasi Sejarah dan Budaya Gowa

Sebagai bekas kerajaan besar,  Gowa memiliki tinggalan-tinggalan sejarah yang syarat dengan makna dan kearifan. Situs-situs ini adalah saksi bisu kebesaran Gowa di masa lalu. Simbol dari pergolakan jiwa orang-orang Gowa dalam menegakkan sirik dan kehormatannya. 

Memandangi reruntuhan benteng-benteng pertahanan Gowa akan menuntun kita menyusuri lorong waktu masa lalu, dan menyaksikan betapa orang Gowa adalah patriot-patriot sejati. Mereka rela mengorbankan apa yang mereka miliki demi kehormatan bangsanya. Di lorong waktu kita membayangkan kilatan peluruh yang dimuntahkan meriam VOC menggetarkan tembok-tembok Benteng Somba Opu dan kegigihan tu baranina Gowa menghalau setiap serangan. Walaupun pada akhirnya benteng direbut. Apa boleh buat, setidaknya janji telah ditunaikan, kehormatan telah ditegakkan.

Benteng bisa saja hancur tetapi api perjuangan tidak akan pernah padam. “Takunjunga bangun turu’ nakugunciri’ gulingku kualleanna Tallanga na toalia” (bila layarku telah terkembang, kemudiku telah terpasang, lebih baik tenggelam daripada surut ke pantai). Filosofi pelaut Makassar ini menginspirasi orang-orang Gowa untuk berjuang pantang menyerah. Bila niat sudah terpatri persiapan sudah matang, bersegeralah melangkah dan jangan pernah kembali sebelum tujuan tercapai.

Setelah Benteng Sombaopu direbut kemudian dihancurkan oleh VOC, sebagian bangsawan Gowa yang tidak rela hidup dalam  kekuasaan VOC, menyebar ke berbagai wilayah Nusantara untuk meneruskan perjuangan. Karaeng Galesong menyeberang ke Jawa membantu perjuangan Trunojoyo di Jawa Timur dan Karaeng Bontomarannu bergabung dengan Syekh Yusuf di Banten. Adegan-adegan ini bukan drama picisan, tetapi fakta yang berbicara kepada generasi sekarang tentang kegigihan dan patriotisme yang tidak pernah luntur.

Di era milineal sekarang, penting untuk merangkai kembali ingatan kita tentang sejarah ini. Apa pentingnya?  Bukankah sejarah adalah bagian dari pendidikan karakter.  Kita butuh inspirasi sejarah untuk membangun karakter generasi bangsa yang hingga kini semakin kehilangan arah. Padahal pembangunan karakter seharusnya menjadi pijakan dari kesinambungan pembangunan di bidang lainnya. Sejarah adalah mata air yang tidak pernah kering sebagai sumber ilmu dan nilai. Mengajarkan kepada setiap generasi tentang pergulatan hidup manusia dengan berbagai peristiwa yang dilakoninya. Tentang benar dan yang salah, tentang kepahlawanan dan pengkhianatan, tentang keberanian dan kepengecutan. Dan tidak diragukan, Sejarah Gowa sarat dengan nilai-nilai itu.

Namun, apakah orang Gowa paham dengan sejarahnya? Entahlah. Tetapi dari pengalaman saya mengajarkan sejarah di sekolah dan perbincangan dengan sesama guru sejarah, saya mendapati bahwa pengetahuan siswa tentang sejarah Gowa teramat minim. Bagaimana dengan kalangan umum atau bahkan kalangan pejabat sekalipun? Bisa jadi keadaannya pun serupa.

Kepedulian masyarakat Gowa terhadap situs-situs sejarah juga masih tergolong rendah. Dari data yang ada di setiap tempat bersejarah memperlihatkan bahwa minat masyarakat berkunjung ke tempat-tempat itu masih kurang. Baik dari kalangan masyarakat umum maupun pelajar. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh dua hal; 1) penataannya yang kurang menarik ditambah dengan promosinya yang kurang giat; 2) sejarah Gowa tidak diajarkan di sekolah-sekolah sehingga tidak melahirkan rasa ingin tahu di kalangan siswa.

Tentang kemungkinan pertama; Penataan bangunan bersejarah kurang menarik. Hal ini telah dijawab oleh Pemerintah Kabupaten Gowa dengan merevitalisasi dan mengadakan penataan di beberpa situs. Seperti kawasan makam Sultan Hasanuddin di Bukit Tamalate serta kawasan Museum Ballalompoa. Patut disyukuri bahwa situs-situs tersebut mulai tertata dengan baik. Tetapi kita tidak boleh berhenti di penataan itu, dibutuhkan upaya promosi dan edukasi ke masyarakat tentang keberadaaan situs tersebut.

Di pelataran Ballalompoa misalnya, bisa dijadikan sebagai pusat pegelaran seni dan budaya Gowa. Kegiatan ini bisa dilakukan sekali dalam sebulan sangat bagus jika bertepatan dengan malam bulan purnama sehingga akan menghidupkan kembali budaya assinga-singara bulan yang dulu menjadi hiburan gratis dan sangat diminati oleh masyarakat Gowa. Pelaksananya adalah setiap kecamatan secara bergiliran. Setiap kecamatan akan menampilkan kesenian daerah seperti assinrinli, pakacaping, paddekko, akroyong, tarian tradisional, serta permainan rakyat bagi anak-anak seperti asing-asing, enggo, gasing dan sebagainya. Sementara ibu-ibu akan menjajakan kuliner khas Gowa berupa makanan, kue dan minuman tradisional dengan stand yang khusus dibuat untuk itu. Kegiatan ini akan sangat penting sebagai upaya pewarisan budaya leluhur sekaligus mempopulerkan Museum Ballompoa sebagai sumber informasi tentang sejarah tumbuh dan berkembangkannya Kerajaan Gowa. Secara ekonomis kegiatan ini juga akan mengangkat perekonomian masyarakat menengah ke bawah.

Kemungkinan kedua; sejarah Gowa tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Ironis memang. Di sekolah, anak-anak kita diajarkan sejarah tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan detail, mulai dari awal terbentuknya, perkembangannya, hingga runtuhnya. Sementara materi sejarah Gowa hanya secuil paling hanya berkisar tentang sejarah masuknya Islam dan perjuangan Sultan Hasanuddin melawan VOC (bisa dilihat pada buku standar Sejarah Nasional Indonesia jilid III dan IV).  Lalu apa solusinya? Jadikan Sejarah Gowa sebagai muatan lokal. Bentuk tim untuk membuat kajian komprehensif terhadap materi ajar sejarah Gowa. Buat silabusnya, lengkapi bahan ajarnya. Lalu ajukan permohonan ke Kemendikbud untuk mendapat pengesahan.

Jika menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal tidak memungkinkan, masih ada alternatif lain. Masukkan materi-materi sejarah lokal ke dalam Bahasa Daerah. Kita tahu bahwa bahasa daerah sudah diakui sebagai muatan lokal di kurikulum. Materi Bahasa Daerah yang selama ini diajarkan direvisi, materi-materi yang kurang perlu seperti tata bahasa dikeluarkan dan digantikan dengan materi sejarah termasuk budaya. Jadi muatan kurikulum bahasa daerah hanya dua yaitu sejarah termasuk budaya Gowa serta Lontarak. Hal ini sekaligus memperbaiki bahan ajar Bahasa Daerah yang selama ini digunakan. Bahasa Daerah sebaiknya hanya fokus ke pelestarian huruf Lontarak dan budaya Makassar.

Kalau cara itupun masih sulit, masih ada cara ketiga. Membentuk tim safari sejarah dan budaya Gowa. Tim ini secara berkala akan berkeliling ke sekolah-sekolah atau mungkin juga ke instansi-instansi pemerintah untuk memberikan penerangan tentang sejarah Gowa. Dijadwalkan secara tetap dan materi yang sudah tersusun dengan silabus yang sudah divalidasi oleh ahlinya. Pelaksanaannya akan mirip dengan Jumat Ibadah yang selama ini sudah berjalan dengan jadwal tetap. Untuk mendukung edukasi sejarah, Pemerintah Kabupaten perlu juga menggalakkan penelitian, penulisan dan publikasi baik berupa buku, brosur, dan artikel tentang sejarah Gowa.  

Semoga dengan demikian sejarah Gowa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Menginspirasi setiap generasi untuk meraih kejayaan Gowa kini dan di masa depan. Karena sejatinya sejarah bukanlah masa lalu untuk masa lalu tetapi masa lalu untuk masa depan.  

0 komentar:

Posting Komentar