Channel YouTube

Jumat, 31 Desember 2021

MUHASABAH



Umar bin Khattab ra, pernah mengingatkan dengan perkataannya yang sangat populer, “Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu.” Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab. Kalimat ini ramai diingatkan kembali oleh para dai menjelang pergantian tahun seperti saat ini. Momennya memang tepat. Pergantian tahun adalah waktu yang paling spesial untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri. “Mumpung kita masih diberi waktu,” kata Ebit G. Ade. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan.


Meskipun tidak harus menunggu berganti tahun untuk menghisab diri. Tiap detik adalah waktu-waktu untuk bermuhasabah. Membaca diri dari setiap helaan nafas. Bukankah nafas adalah bukti kasih sayang Allah? Dengannya kita dapat merasakan nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya. Tidak terukur nilainya. Banyak, tak perlu menghitung. Kita tidak akan sanggup. Cukuplah dengan mensyukurinya.  Dan dengan syukur itu, Allah berjanji akan menambahkan lagi nikmatnya. Sebaliknya, para pengingkar nikmat, Allah mengancamnya dengan azab yang pedih (QS. 14 : 7).


Syukuri nikmat yang diberikan dengan menggunakannya hanya untuk mengabdi kepada Sang Pemberi nikmat, Allah SWT. Kufur nikmat adalah kekeliruan yang sejati. Bagaimana mungkin menggunakan nikmat untuk melawan sang pemberi? Nikmat ibarat barang titipan. Akan dikembalikan kepada pemiliknya, kelak di kemudian hari. Sudikah mengembalikan barang pinjaman dalam keadaan rusak?, Atau malah menghilangkannya? Memalukan!.


Ada muhasabah di setiap langkah yang diayun. Ayunan yang akan mengantar kita ke ujung jalan. Akhir kehidupan. Dimana kita hanya bisa menoleh ke belakang. Menatapi jejak-jejak yang membekas, tetapi tidak lagi bisa kembali menata ulang jejak-jejak itu. Jejak buruk akan membawa penyesalan. Pasti! Perhatikan perkataan Allah ini :


“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin.” (QS. 32 : 12)


Atau ayat yang ini : “Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. 67:10).


Betapa besar penyesalan bagi mereka yang salah dalam memilih jalan. Penyesalan yang tidak berguna lagi.


Maka pastikan setiap langkah adalah detik-detik yang membawa kebermaknaan. Membawa manfaat yang akan membawa kepada kebahagiaan di kehidupan kekal. Diriwayatkan dalam sebuah hadist, Nabi bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad).” Hadits yang lain mengatakan, "Sebaik-baik diantara kalian ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya". (HR At-Tirmidzi).


Berjalanlah pada titian yang lurus, jalan hidayah yang telah dipilihkan Allah. Jalan yang tidak pernah luput dari doa pada shalat-shalat yang didirikan : “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. 1: 6-7)


Momen muhasabah yang paling mengesankan adalah ketika shalat. Shalat adalah dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya. Langsung tanpa perantara. Perhatikanlah sekali lagi bacaan-bacaan shalat itu. Resapi maknanya. Anda akan merasakan kedekatan dengan Allah. Kedekatan yang melahirkan kepasrahan. Kedekatan yang menghadirkan ketakberdayaan di hadapan Sang Maha Perkasa. Kehinaan di hadapan pemilik Kemahamuliaan.


Itulah sebabnya shalat terkadang membuat anda terisak, mengingati dosa-dosa yang telah diperbuat. Menyesal dan merasa tak berguna di hadapan Allah.


Maka sejatinya, shalat kita mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Itulah hasil dari muhasabah dalam shalat. Hebatnya, kaum Muslim diberi waktu sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari untuk melaksanakan amalan dahsyat ini. Betapa beruntungnya. Perhatikan dialog Nabi dengan sahabat-sahabatnya :


Nabi berkata : “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Di hadist lain Nabi berkata : “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim).


Mari menghisab diri setiap waktu untuk kehidupan di hari depan. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. 59 : 18).


Selamat menjalani hari-hari baik di tahun baru ini. Semoga dilimpahi keberkahan dan keberuntungan.


“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR. Al Hakim).

0 komentar:

Posting Komentar