Ini adalah perjalanan ruhani. Sembilan bulan berjalan seolah mengisi jiwa dengan butiran kebijaksanaan. Setiap langkah yang diayun bagai membuka lembaran kurikulum, kurikulum alam. Kurikulum yang tak tertulis, dan hanya bisa dipahami dengan meresapinya, merenunginya.
Prosesi pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke 2 baru saja selesai. Ditandai dengan penyelenggaraan Lokakarya 9, lokakarya penutup. Setelah ini tidak ada lagi lokakarya, tidak ada lagi pendampingan individu. Aksi nyata, ini yang dinanti.
Lokakarya 9 adalah alarm. Pertanda gerakan sesungguhnya baru saja dimulai. Tidak bisa ditunda lagi. Tentu kita tidak ingin program ini tidak mati suri, layu sebelum berkembang.
Maka mulailah dari sekarang. Bagian tersulit dari suatu pekerjaan adalah memulainya. Betapa banyak perencanaan yang tersusun rapi, gagal diwujudkan karena hanya tertulis dalam dokumen lalu disimpan rapat-rapat dalam tumpukan arsip.
Pengetahuan hanya bisa membawa manfaat jika mewujud dalam aksi nyata. Memang begitulah seharusnya, teori itu bukan sekadar gudang kata, tetapi juga kerangka aksi, panduan tindakan. Saya suka mengulang-ulang kalimat ini, “pekerjaan yang tidak pernah selesai adalah pekerjaan yang tidak pernah dimulai”. Kalimat yang mungkin saja dibuat untuk berkelakar tetapi benar adanya. Bagaimana mungkin berharap pekerjaan selesai jika tidak pernah memulainya.
Setelah memulai, pekerjaan terberat berikutnya adalah konsistensi. Konsisten menjaga spirit untuk tidak kendor hingga tujuan tercapai. Tidak gampang menyerah terhadap rintangan apapun. Itulah pentingnya perencanaan diikat dengan komitmen.
Guru Penggerak telah dibekali dengan ilmu yang lebih dari cukup. Dengannya mereka diharapkan menjadi pemeran utama dalam proses transformasi pendidikan yang sedang berjalan.
Rencana Tindak Lanjut (RTL), lengkap dengan manajemen risiko telah disusun, didiskusikan. Malah sudah banyak yang ujicobakan di sekolah. Komitmen juga sudah diikrarkan, sudah ditandatangani. Tinggal kesungguhan dalam memulai aksi. Ini pun tidak terlalu sulit, Tim dan jaringan kerja berupa komunitas praktisi sudah tersedia.
Dan yang terpenting: mereka adalah orang-orang terpilih. Diseleksi dengan ketat lalu dilatih. Tidak tanggung-tanggung, selama 9 bulan. Banyak energi yang terkuras. Tetapi lebih banyak lagi harapan yang menggantung. Sama banyaknya dengan potensi kekecewaan jika program ini gagal.
Maka jangan biarkan bola mati di kaki anda. Ingat, di pinggir lapangan begitu banyak penonton yang akan menyoraki atau malah melempari dengan botol air mineral. Belum lagi para netizen, yang umpatannya bisa melampaui nalar. Bermainlah dengan cantik, fokus pada tujuan, fokus pada kemenangan.
Jika semangat kendor, buka album. Lihat kembali jejak digital yang bertebaran di media sosial. Saya yakin, gambar-gambar dan video itu akan membuatmu senam wajah. Sekali senyum, lain waktu tertawa, atau bisa saja meneteskan air mata. Entah karena sedih, entah karena saking bahagianya.
Kita butuh kenangan itu, sebagai penyemangat. Bahwa keberadaan kita saat ini telah melalui perjuangan panjang, tidak instan. Jangan biarkan perjuangan ini sia-sia. Guru penggerak adalah mata air yang akan memancarkan air kehidupan di manapun berada.
Buat sahabat-sahabat seperjalannaku di program ini. Pak kaparuddin , Pak Hamzari Hafid, bu Wiwik Pratiwi Yunus, pak Rusli. Terima kasih telah memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga. Yang di awal tulisan ini saya menyebutnya kurikulum alam.
Pengalaman yang tidak ternilai. Saya banyak paham tentang arti kekeluargaan dan persahabatan. Saya merasa sebagai bagian dari keluarga besar empat sekolah yang saya kunjungi setiap bulan. Dijamu dengan penuh keramahan, diperlakukan bagai keluarga terhormat, bukan sebagai tamu.
Diskusi yang menginspirasi dengan kepala sekolah dan juga teman-teman guru. Menu yang akan selalu dirindukan, menyegarkan alam pikiran.
Tentu saya tidak akan melupakannya, perjalanan ke perbukitan mengunjungi sekolah-sekolah itu. Mentadabburi keindahan alam ciptaan Sang kreator Maha Agung, Allah SWT. Bagian yang tidak boleh luput untuk disyukuri.
Saya ikut merasakan denyut perjuangan sahabat-sahabat saya. Berjuang di dataran tinggi dengan sarana prasarana terbatas. Lokasi yang tak mudah dijangkau. Ditambah kebijakan yang kadang tidak berpihak ke mereka. Butuh nyali yang tidak biasa untuk bisa bertahan. Saya bangga dengan mereka. Semoga tetap istiqamah di jalan ini.
Terima kasih pak Kaparuddin Nompo . Nasehatanya yang selalu mengingatkan "mulailah dari dirimu" selalu saya ingat. Menjadi teladan dari yang kita ucapkan.
Terima kasih pak Hamzari Hafid, sahabat yang selalu energik. Teman diskusi yang menginspirasi, sarat kreativitas.
Terima kasih bu Wiwik Pratiwi Yunus karenamu tim ini menjadi berwarna. Meskipun kelihatannya kesulitan mengekspresikan kebahagiannya di tim ini. Atau jangan-jangan tidak bahagia? Hehe...Terima kasih telah bersedia mengikuti jalan para bapak-bapak yang suka berpetualang ini.
Terima kasih pak Rusdii guru muda yang bertalenta, gagah pula orangnya. Teruslah berkarya mumpung masih muda.
Terima kasih bapak/ibu kepala sekolah dan teman-teman guru ; SDN Tassese (Manuju), SDI Kananga (Manuju), SDI Parang (Parangloe), dan SDI Pakkolompo (Parangloe).
Terima kasih sahabat-sahabat para pengajar praktik Pendidikan Guru Penggerak Kabupaten Gowa-Takalar angkatan 2. Segenap Panitia dari PPPPTK Penjs/BK.
Maafkan atas segala khilaf dan keterbatasan saya.
Mari bergerak untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

0 komentar:
Posting Komentar