Channel YouTube

Sabtu, 02 Mei 2020

Belajar dari Covid-19


Judul di atas adalah tema yang dipilih oleh Kemdikbud dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini. Peringatan yang tentu jauh dari hingar bingar seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini bahkan upacara bendara di satuan-satuan pendidikan serta di instansi-instansi pun ditiadakan. Tidak mengapa. Bukankah yang terpenting dari sebuah peringatan adalah seberapa banyak kita mengambil pelajaran dari peristiwa yang dikenang. Bukan seberapa ramai dan seberapa meriah prosesi peringatan itu.

Tema ini saya kira membawa pesan. Bahwa kita tidak boleh terus-menerus memaki corona sebagai sumber dari segala kesulitan yang ada. Mari rehat sejenak dan melihat apa yang bisa kita pelajari dari merebaknya wabah ini. Khususnya dalam kaitannya dengan pendidikan.

Covid-19 memaksa pemerintah mengambil langkah cepat menyelamatkan siswa dari terpapar virus. Siswa diliburkan, pembelajaran dilaksanakan di rumah dengan mode daring. Mau tidak mau, guru harus menyesuaikan diri dengan model pembelajaran ini. Meskipun kelihatannya banyak yang kesulitan. Jujur saja belum semua guru terbiasa menggunakan internet untuk pembelajaran. Kabar baiknya, mereka segera bergegas ikut pelatihan yang mendadak ramai.

Tiba-tiba pembelajaran daring menjadi tren di dunia pendidikan. Sesuatu yang mungkin dulu sulit dibayangkan. Akhirnya guru dan siswa terbiasa dengan aplikasi-aplikasi video konferensi, serta aplikasi pembelajaran daring lainnya.

Covid-19 telah mengintervensi dunia pendidikan. Memaksa untuk mengubah gaya pembelajaran. Bahwa pembelajaran tidak harus di ruang-ruang kelas. Pembelajaran tidak harus bertatap muka antara guru dengan siswa. Persepsi tentang ruang-ruang kelas seketika berubah. Tidak harus berbentuk fisik dengan sekat-sekat tembok di setiap satuan pendidikan. Tetapi bisa berupa kelas virtual di ruang-ruang maya. Bukan tidak mungkin, di masa depan, ruang-ruang fisik di sekolah lebih banyak difungsikan dalam kegiatan administratif daripada ruang belajar.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, bisa diprediksi bahwa pembelajaran jarak jauh akan mendominasi model pembelajaran. Dengan atau tanpa corona sekalipun. Kehadiran corona hanya mempercepatnya. Corona membuka selaput ketidaksadaran kita selama ini tentang mitos, “guru tak tergantikan.” Faktanya perangkat komunikasi perlahan mulai menggeser peran guru sebagai pemegang otoritas dalam proses belajar mengajar. Ini adalah tantangan bagi praktisi pendidikan dan lembaga-lembaga kependidikan pemerintah maupun nonpemerintah.

Era digital telah membawa perubahan besar-besaran dalam pola hidup manusia. Aktivitas manusia mulai bergeser dari kehidupan nyata ke alam maya. Dunia menghadapi inovasi disruptif. Renald Kasali dalam bukunya, Disruption, memaparkan tumbangnya satu persatu perusahaan-perusahan besar yang ditengarai sebagai akibat inovasi destruptif ini.

Beberapa tahun yang lalu kita bisa melihat begaimana perkasanya Nokia merajai produk ponsel dunia. Tetapi penemuan smartphone telah merubah segalannya, Nokia pun tumbang. Hal yang sama juga dialami oleh Blackberry. Kodak yang menjadi pioner dalam perkembangan fotografi film harus menyerah di tangan kamera digital. Taksi konvensional harus rela memberi jalan untuk berkembangnya taksi online. Demikaian juga dengan ojek pangkalan yang tersingkir oleh ojek online.

Kita pun bisa menyaksikan begitu banyak jenis pekerjaan yang dulu akrab dengan kita sekarang harus menerima kenyataan, tidak terpakai lagi. Atau setidaknya perannya terkurangi. Digantikan dengan pendatang-pendatang baru.

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Di dunia pendidikan, sepertinya pun mengarah ke sana. Kita bisa melihat bimbingan belajar kini telah banyak dilakukan secara daring. Lembaga-lembaga pelatihan juga telah melakukan hal yang sama. Perpustakaan pun sudah banyak yang digitalkan dan bisa diakses secara daring. Bahkan peminjaman buku bisa dilakukan tanpa seseorang harus meninggalkan rumah.

Fakta-fakta ini memperlihatkan kepada kita betapa dunia pendidikan khususnya profesi guru menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dan untuk itu kita mestinya berterima kasih pada corona. Corona secara tidak langsung membuat tantangan ini yang semula tidak terlihat menjadi lebih nyata.

Corana telah menyentak kalangan pendidik segera berbenah. Berbenah sesegera mungkin. Menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Guru bukan hanya berhadapan dengan perangkat-perangkat canggih yang berkembangannya tidak terbendung. Tetapi juga berhadapan dengan generasi digital yang konon terlahir dengan “gadget di tangannya.”

Maka berubah adalah sebuah keniscayaan, bukan tawaran. Meminjam istilah Renald Kasali, guru harus mendisrupsi diri (self disruption). Bagaimana mungkin kita membelajarkan generasi zaman now dengan pengajaran zaman old? Bagaimana mungkin guru membereskan persoalan-persoalan kekinian dengan cara-cara kemarin? Bagaimana mungkin menghadapi anak-anak milineal dengan gaya kolonial?

Jika guru tidak membekali diri dengan penguasaan teknologi pembelajaran bukan tidak mungkin perannya akan tergeser oleh teknologi. Bisa jadi siswa akan lebih tertarik belajar ke google atau youtube daripada ke gurunya. Dan pendidikan akan menghasilkan manusia-manusia robot yang mungkin saja memiliki kompetensi yang baik tetapi jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Bukan hanya guru yang harus berbenah, lembaga-lembaga kependidikan pun demikian. Para pemegang kebijakan di bidang pendidikan, pembuat regulasi pun mestinya menyesuaikan diri. Kebijakan-kebijakan yang dihasilkan harus memberikan dukungan terhadap kemajuan pendidikan bukan justru menjadi penghambat. Perangkat kurikulum dirancang dan dipersiapkan untuk mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan riil masa kini dan masa depan.

Memahami dengan baik kebutuhan dunia pendidikan dan fokus untuk memenuhinya. Pemenuhan kebutuhan akan perangkat teknologi dan sarana belajar lainnya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah konsisten dalam upaya peningkatan kompetensi guru.

Tiap-tiap celaka pasti ada gunanya. Pribahasa ini mengandung arti bawa setiap musibah sudah barang tentu ada hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik. Covid-19 adalah bencana yang berdampak demikian luas. Tetapi Covid-19 juga bisa menjadi sebab timbulnya revolusi besar-besaran dalam bidang pembelajaran. Mudah-mudahan ini menjadi wasilah bagi kemajuan pendidikan nasional.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020.
Jayalah pendidikan Indonesia

Gowa, 9 Ramadhan 1441 H/2 Mei 2020


4 komentar:

  1. Sangat menginspirasi pendidikan pak...betul kita mengambil hikmah dan mari kita memperjuangkan pendidikan demi anak bangsa. Selamat hari pendidikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bu...Selamat hari pendidikan nasional

      Hapus
  2. Tepat sekali tema yg diangkat di Hari pendidikan Nasional kali ini, bahwa ini suatu keniscayaan yg mengharuskan kita kembali menggali bahwa pembelajaran apa yg seharusnya kita ambil dari kejadian yg sangat menghebokan dunia ini, terutama bagi kita sebagai tenaga edukasi yg punya kewenangan untuk memberikan sumbangsi kepada Bangsa sekaligus menjadi solusi dari segala kesemrautan pendikan,ekonomi dan budaya yg terpaksa harus berbalik arah, menjadi tidak mampu lagi pemerintah menangani permasalahan ini secepat mungkin.

    Sangat menarik dan tepat sekali apa dijelaskan dalam tulisan ini, bahwa covid 19 ini menuntut kita untuk merubah pola fikir kita sebagai guru dalam melaksanakan tugas kita, yg biasanya kita mangajar dengan bertatap muka dengan siswa, dengan bebasnya kita membuat perencanaan sesuai dengan kondisi kita dan kondisi siswa sehingga pelaksanaannya juga di kelas kita bebas mengespresikan perasaan dan kemampuan yg kita miliki, mengajar dengan bisa berceritra pada saat kegiatan pendahuluan, di kegiatan inti kita bebas merubah metode mengajar kita dan kegiatan akhir dengan mudahnya kita menyampaikan kepada siswa tentang tugas minggu depan karena kita akan bertatap muka lagi dengan mereka, namun tidak meyusahkan orang tuanya seperti yg di permasalahkan orang tua siswa sekarang yg tidak setuju jika anak2 di bebani tugas2, dengan alasan orang tua yg harus membantu anaknya dalam mengerjakan tugas-tugasnya maka dianggaplah guru itu "Bodoh,Menyusahkan dll.".

    Tantangan inilah yg mengharuskan kita untuk belajar lebih lagi karena selain kita harus belajar mengajar Daring dengan berbagai macam model, juga mengharuskan kita tahu bagaimana metode atau model pembelajaran yg paling disenangi siswa, karena sangat2 jauh berbeda kalau kita bertatap muka dengan siswa.
    Untuk mendapatkan pembelajaran dari kejadian ini, ada 2 perangkat yg harus berbenah sekaligus menjadi solusi, terutama dalam dalam kaitannya dalam Pendidikan yatu:
    Yang pmertama, guru itu sendiri yg harus memaksakan diri untuk konsisten dalam memacu kompetensinya dengan tehnologi, apapun itu hasilnya, karena memang ketidak mampuan itu tidak bisa dipaksakan sekali dua kali belajar langsung tahu apalagi guru-guru yg sudah hampir pensiun, bahkan guru yg masih mudapun juga terkadang dihinggapi rasa malas, tetapi itu tidak bisa menjadi alasan karena mengajar adalah menjalankan amanah dari Allah itu wajib sehingga kita bisa saja makan gaji haram mana kala iktiyar itu tidak dilaksanakan.

    Yang kedua, Pemerintah seharusnya mendata Daerah-Daerah yg belum punya koneksi internet, sebab ada banyak sisiwa yg tinggal di pedesaan tidak bisa terkoneksi dengan internet. Dan paling penting lagi bahwa kemampuan membeli perangkat ini hp,laptop hanya 65 persen dari siswa yg ada dalam sekolah itu, terutama yg ada di pedalaman. jadi belum semua siswa bisa ikut pembelajara Daring. jadi kembali lagi kepada guru bagaimana cara menghadapi siswa yg tidak pernah ikut,dan ini tidak bisa di limpahkan kesalahan ini kepada siswa tersebut.Maka disinilah peran penting guru dalam pengelolaannya.

    Oleh karenanya mari kita saling mengingatkan sebab manusia makhluk yang dibekali dengan kehilapan, maka tidak bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kalau sudah tidak ada lagi yang mau saling mengingatkan maka tunggulah hancurnya dunia ini. seperti halnya tulisan ini mengingatkan kepada kita untuk merenungkan kembali hikmah2 kejadian ini jangan sampai kita terlena dengan hanya menikmati libur tanpa ada mamfaat. Terimasih, Islam itu "RAHMATAN LILAlAMIN" Semoga kita semua dalam LindunganNYA. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya rabbal alamin. Ulasan yang luar biasa, TERIMA KASIH

      Hapus