![]() |
| Ki Hajar Dewantara - Foto : Wikipedia |
Tentu saja, guru dituntut memiliki bekal yang cukup dalam menjalankan tugas ini. Bukan hanya bekal pengetahuan tetapi juga bekal berupa kepribadian. Pada tulisan ini saya ingin mengajak untuk kita kembali menyelami kepribadian Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara (KHD). Harapannya dapat menjadi panutan setiap pendidik terutama dalam masa-masa sulit seperti saat ini.
KHD adalah seorang patriotik sejati. Terlahir sebagai bangsawan, tetapi sejak kecil sangat akrab dengan rakyat jelata. Bersahabat dengan anak-anak kampung di luar tembok keraton. Dari pergaulan itulah KHD merasakan ketimpangan antara anak-anak Belanda (dan Eropa lainnya), anak-anak golongan priyayi, dan bangsawan yang mendapat akses pendidikan yang layak. Sementara anak-anak pribumi tidak mendapat layanan pendidikan yang semestinya.
Pada usia belia, KHD bertekad ingin menjadi guru dan mendirikan perguruan untuk rakyat jelata. Ingin sekali melihat anak-anak kampung, teman bermainnya, juga dapat menikmati pendidikan. Cita-cita inilah yang mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah keguruan, kweekschool setamat dari ELS (Europeesche Lagere School). Meskipun tidak menamatkan pendidikannya di lembaga itu, karena menerima tawaran beasiswa di sekolah kedokteran, STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Tetapi cita-citanya untuk memajukan pendidikan bangsanya tidak pernah padam.
Saat KHD menempuh pendidikan di STOVIA, beliau turut serta dalam merintis pergerakan nasional. Bergabung dengan Budi Utomo, Sarekat Islam dan bersama-sama dengan Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Party (partai politik pertama di Indonesia). Selanjutnya, aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah. Tulisan-tulisannya banyak menyoroti persoalan politik, terutama yang berkaitan dengan perilaku kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Pilihan yang di kemudian hari menyebabkan KHD sering berurusan dengan pihak keamanan.
Pada tanggal 19 Juli 1913 KHD menulis sebuah artikel di Surat Kabar Harian De Expres, dengan judul “Als Ik Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Artikel ini mengecam tindakan pemerintah Belanda yang hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannya dari Perancis di Hindia Belanda. Dalam artikel itu KHD menilai perayaan hari kemerdekaan Belanda di tanah jajahan dan dibiayai oleh penduduk negeri jajahan adalah tindakan tidak adil dan memalukan. Dua orang sahabatnya, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo memberikan dukungan, juga melalui tulisan di surat kabar yang sama. Tulisan-tulisan mereka membuat pemerintah Hindia Belanda murka. Akibatnya, ketiganya ditangkap dan dibuang ke negeri Belanda.
Selama dalam masa pembuangan, KHD banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh cendekiawan di Eropa, termasuk tokoh pendidikan. Menyelami ide dan pemikiran mereka. Di antara tokoh pendidikan yang banyak mempengaruhi pemikirannya di kemudian hari, adalah Mr. Frobel dan dr. Maria Montessori.
Sepulang dari pembuangan KHD kembali aktif dalam pergerakan. Kegigihannya dalam pergerakan membuatnya beberapa kali merasakan hidup di balik jeruji besi. Beliau akhirnya memilih fokus pada perjuangan di bidang pendidikan. Tanggal 3 Juli 1922 mendirikan Taman Siswa yang kelak menjadi wadah untuk mewujudkan mimpinya. Memberikan layanan pendidikan yang merata ke rakyat jelata yang selama ini terpinggirkan.
Melalui Taman Siswa KHD menggelorakan semangat patriotisme. Patriotisme yang tumbuh dari jiwa-jiwa merdeka. Peserta didik dituntun agar memiliki kemandirian, membebaskan diri dari ketergantungan dengan pihak manapun. Jiwa merdeka adalah syarat bagi kemerdekaan sebuah bangsa. Pembelajaran dilaksanakan dengan berpusat pada murid, guru atau disebut pamong hanya sebatas memfasilitasi, menuntun proses pengembangan potensi murid agar terarah sesuai harapan.
KHD mengibaratkan guru adalah petani, sedangkan peserta didik adalah tanaman. Petani yang bijak adalah petani yang memperlakukan tanaman; menanam dan memelihara sesuai dengan karakternya. Sama halnya dengan guru, memperlakukan peserta didik sesuai dengan kodrat dan karakternya, bakat dan minatnya. Hanya dengan demikian akan tercipta pembelajaran yang memerdekakan.
Membaca kembali KHD, kita bisa memahami bahwa perjuangannya dilandasi oleh spirit patriotisme. Cinta dan kesetiaan pada bangsanya menjadikannya kuat menghadapi beratnya tantangan ketika itu. Anak-anak pribumi yang selama ini tidak tersentuh pendidikan diangkat derajatnya melalui pembelajaran tanpa diskriminasi. Bahkan beliau rela menanggalkan status kebangsawanannya untuk menghilangkan jarak dengan peserta didik dan masyarakat lainnya. Namanya yang mencirikan kebangsawanan, Raden Mas Suwardi Suryaningrat diganti menjadi Ki Hajar Dewantara.
Spirit patriotisme ini sangat kita butuhkan dan seharusnya dihidupkan kembali oleh para pelaku pendidikan saat ini. Para guru mesti menyadari bahwa tugas yang mereka emban adalah tugas yang tidak sederhana. Tugas ini berkaitan dengan keberlangsungan negara. Menyelamatkan setiap generasi dari keterbelakangan.
Semangat ini pula yang semestinya menjadi dasar bagi setiap pendidik dalam memimpin pemulihan pembelajaran. Kita tahu; loss leaning ancaman serius bagi masa depan anak-anak kita. Sama halnya dengan kolonialisme yang membuat bangsa kita terpuruk di masa lalu. Saatnya melipatgandakan semangat pengabdian, bergerak serentak mengambil peran.
Patriotisme yang memenuhi jiwa-jiwa para tokoh pejuang-pergerakan telah melahirkan proklamasi kemerdekaan. Maka yakinlah semangat yang sama, yang memenuhi jiwa-jiwa para pendidik saat ini, pun akan mewujudkan merdeka belajar sebagai bagian dari ikhtiar kita melahirkan manusia mandiri untuk Indonesia di masa depan.
Selebihnya, kita berserah kepada Allah SWT, semoga berkenan merestui perjuangan ini, sebagaimana Allah telah memberkati perjuangan para pendahulu kita.


Keren pak ketua
BalasHapusSiap..terima kasih pak
Hapus